Trump Bekukan Aset Minyak Venezuela, Dana Dikunci untuk Kepentingan AS

- Minggu, 11 Januari 2026 | 18:25 WIB
Trump Bekukan Aset Minyak Venezuela, Dana Dikunci untuk Kepentingan AS

Presiden Donald Trump kembali mengambil langkah tegas. Kali ini, dengan mendeklarasikan keadaan darurat nasional, ia mengeluarkan arahan untuk memblokir pendapatan dari penjualan minyak Venezuela di masa depan. Langkah ini, menurut Gedung Putih, adalah upaya untuk mengendalikan aliran dana tersebut.

Perintah eksekutif yang ditandatangani Trump pada Sabtu lalu punya tujuan yang jelas. Ia ingin melindungi pendapatan minyak Venezuela yang saat ini disimpan di rekening Departemen Keuangan AS. Intinya, dana itu akan diblokir agar tidak bisa diakses oleh para kreditor Venezuela. Dengan cara ini, uang itu tak bisa disita untuk melunasi utang atau klaim hukum lainnya yang menumpuk.

"Memastikan dana ini disimpan untuk memajukan tujuan kebijakan luar negeri AS," begitu bunyi penjelasan resmi dari Gedung Putih.

Pemerintahan Trump bersikukuh bahwa dana yang disimpan itu tetaplah hak milik kedaulatan Venezuela, meski berada di bawah pengawasan AS. Statusnya khusus, untuk tujuan pemerintah dan diplomatik, sehingga tidak boleh diganggu gugat oleh klaim-klaim dari pihak swasta.

Lalu, untuk apa dana itu nantinya? Trump sudah berulang kali menyebut angka fantastis, 30 hingga 50 juta barel minyak. Hasil penjualannya, klaim pemerintah AS, akan digunakan untuk memberi manfaat ganda. Di satu sisi untuk rakyat Venezuela, di sisi lain untuk kepentingan Amerika sendiri.

Ada alasan praktis di balik rencana penjualan ini. Selain menjaga agar aliran pendapatan tetap ada pasca-penangkapan Presiden Nicolás Maduro, langkah ini juga diharapkan bisa mengurangi tumpukan minyak mentah di gudang-gudang penyimpanan yang sudah terlalu penuh.

Namun begitu, Gedung Putih juga menyelipkan peringatan. Mereka mengklaim bahwa jika negara atau kreditor lain mencoba mengakses dana tersebut, itu akan membahayakan tujuan strategis AS. Ancaman itu secara khusus diarahkan pada Iran dan Hizbullah, yang selama ini menjadi perhatian utama pemerintahan Trump.

Jadi, lewat perintah darurat ini, Trump bukan cuma mengamankan aset. Ia juga sedang menyusun posisi untuk langkah-langkah diplomatik dan ekonomi selanjutnya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar