"Silent Majority Telah Berbicara"
Sebuah Ironi dalam Perjalanan Ridwan Kamil
✍🏻Kang Irvan Noviandana
Di tengah hiruk-pikuk Pilpres kemarin, ada satu unggahan Ridwan Kamil yang sempat menyita perhatian. Ia menyebut kemenangan Prabowo-Gibran sebagai kemenangan silent majority. Satu kalimatnya itu masih terngiang: “Silent Majority telah berbicara.”
Bukan cuma komentar politik biasa. Pernyataan itu terasa seperti kebanggaan, sekaligus penegasan posisi. Bahwa ada mayoritas diam yang akhirnya menunjukkan taringnya.
Namun begitu, ada ironi yang terasa getir sekarang. Ironi itu menyangkut perjalanan Kang Emil sendiri, baik di panggung politik maupun dalam kehidupan pribadinya yang belakangan jadi bahan pembicaraan. Perlu saya tegaskan, tulisan ini bukan untuk ikut-ikutan menghakimi atau mengeksploitasi masalah pribadi. Ini cuma refleksi sederhana atas istilah yang dulu ia banggakan itu: silent majority.
Sebelum masuk lebih dalam, mari kita telusuri sebentar. Sebenarnya, siapa sih yang disebut silent majority itu?
Istilah ini punya sejarah panjang. Dipopulerkan pertama kali oleh Presiden AS Richard Nixon di tahun 1969. Kala itu, ia merujuk pada warga mayoritas yang tak turun ke jalan, tak vokal, tapi dianggap mendukung pemerintah dan stabilitas. Mereka diam, tapi diklaim punya andil.
Di Indonesia, istilah ini menemukan momentumnya pasca-2016, usai kejatuhan Ahok. Mantan Kapolri Tito Karnavian, yang kini Mendagri, memakainya secara resmi dalam sebuah pidato. Ia jadi semacam counter-narrative terhadap kelompok yang suka demonstrasi, oposisi jalanan, dan tekanan politik lewat mobilisasi massa.
Pesan waktu itu jelas: suara yang diam dianggap lebih mewakili ketimbang suara yang ribut.
Tapi lama-lama, silent majority berubah. Ia tak lagi netral. Menurut sejumlah pengamat, istilah itu menjelma jadi alat legitimasi. Legitimasi bagi aparat untuk menindak pihak-pihak yang dianggap mengganggu. Kita lihat sendiri, istilah ini kerap hadir bersamaan dengan penangkapan tokoh, kriminalisasi ulama, hingga tragedi KM 50 yang menewaskan enam laskar. Silent majority dianggap mendukung narasi aparat saat itu.
Kembali ke Pilpres. Ridwan Kamil, sebagai Ketua TKD Prabowo-Gibran di Jabar, menyebut kemenangan pasangan 02 sebagai suara silent majority. Ini bukan cuma retorika kosong. Pernyataannya punya kaitan historis dengan narasi pasca-2016 era di mana kritik dipersempit ruangnya dan protes mudah dicap sebagai pengacau.
Di sinilah ironinya kian jelas.
Coba perhatikan. Prahara yang menerpa Ridwan Kamil belakangan ini justru tidak ramai dibahas di forum-forum aktivis atau kalangan yang dulu sering dicap sebagai noisy minority. Isu ini juga tak jadi santapan utama mereka yang kerap dituduh “mengganggu pemerintah”.
Justru sebaliknya. Isu ini paling hidup dan bergema di kalangan silent majority itu sendiri.
Masyarakat yang biasanya acuh pada isu kebijakan negara atau problem struktural, tiba-tiba sangat antusias membicarakan kehidupan pribadi dan gosip rumah tangga orang.
Di titik ini, silent majority memperlihatkan wajah lain. Mereka diam pada hal-hal besar bukan karena kedewasaan, tapi mungkin karena apati. Tapi mereka bisa sangat lantang dan riuh ketika yang dibahas adalah urusan ranjang, perselingkuhan, dan cerita-cerita sensasional.
Dan ironinya mencapai puncak. Ridwan Kamil kini justru berhadapan dengan massa yang dulu ia puji. Bukan sebagai pembela, tapi sebagai kerumunan yang sibuk menghakimi. Sunyi yang dulu dielu-elukan, berubah jadi kebisingan yang tak kenal ampun.
Artikel Terkait
Indonesia dan AS Sepakati Perjanjian Dagang Resiprokal, Akses Tarif Nol Persen untuk Ribuan Produk
Ketua MPR Nilai Usulan Parliamentary Threshold 7 Persen Terlalu Tinggi
Pakar Hukum: Warga Berhak Gugat Negara atas Kelalaian Infrastruktur Publik
Pemimpin Kartel CJNG El Mencho Tewas, Kekacauan di Meksiko Picu Peringatan Perjalanan dan Pembatalan Penerbangan