Ia pun menyebut beberapa momen. Di Kejaksaan Agung (24/12/2025) dan Kongres Muslimat NU (10/2/2025), Prabowo menyatakan kesiapan untuk mati demi rakyat. Ia berjanji berjuang bersama rakyat Indonesia hingga akhir hayat, bukan cuma saat ada masalah, tapi juga dalam menghadapi kekuatan asing. Sebelum jadi presiden, tepatnya 10 Desember 2023, ia juga bilang ingin berbakti pada rakyat sebelum dipanggil Yang Maha Kuasa, ingin melihat rakyat makmur dan anak-anak tersenyum.
Lalu, setelah jadi Presiden, ujian datang bertubi-tubi. Yang terakhir, banjir bandang di Sumatra. Ribuan nyawa rakyat melayang diterjang air bah.
Di saat seperti itu, rakyat serentak berharap. Mereka menunggu presiden bergerak cepat. Inilah saatnya tampil heroik, menunjukkan tekad dan tindakan nyata sesuai janji "siap mati bersama rakyat". Tentu saja, bukan berarti harus bunuh diri ikut terbawa banjir.
Tapi yang terjadi?
Baginya, korban jiwa bukanlah komoditas transaksi. Apalagi dengan alasan politik licik di belakangnya.
Di sinilah, kata Sutoyo, sifat enigmatik itu menyelinap keluar.
Di akhir keterangan, Sutoyo menutup dengan kata bijak Abraham Lincoln yang masih relevan hingga kini: “You can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, but you cannot fool all the people all the time.”
Anda bisa membodohi semua orang untuk sementara waktu, dan beberapa orang sepanjang waktu. Tapi Anda tak akan pernah bisa membodohi semua orang sepanjang waktu.
Artikel Terkait
Truk Gandeng Melaju Liar, Nyawa Pengendara Motor Melayang di Bondowoso
Peringkat Naik, Tapi Laut Indonesia Masih Rapuh untuk Nelayan Kecil
Bus Besar dan Jalan Sempit: Kemacetan Kronis Kembali Paralyze Sawangan
Pengkhianat dalam Barisan: Saat Aktivis Antipalsu Bertandang ke Istana