Shin Tae-yong Ungkap Alasan Bertahan di Indonesia Pasca-Timnas

- Jumat, 20 Februari 2026 | 19:20 WIB
Shin Tae-yong Ungkap Alasan Bertahan di Indonesia Pasca-Timnas

JAKARTA – Sudah lewat dari awal 2025, Shin Tae-yong tak lagi berdiri di pinggir lapangan sebagai pelatih Timnas Indonesia. Tapi, pria asal Korea Selatan itu ternyata masih betah tinggal di sini. Kenapa? Rupanya, ada ikatan emosional yang kuat yang membuatnya enggan pergi.

“Saya selalu merasa bahagia setiap kali kembali ke Indonesia,” ujar Shin Tae-yong.

Pelatih berusia 56 tahun itu buka-bukaan. Baginya, prestasi yang berhasil diraih bersama Skuad Garuda dan kecintaan luar biasa dari publik sepak bola nasional adalah alasan utamanya. Kedua hal itu menciptakan memori yang sulit dilupakan. Sambutan hangat dan antusiasme fans, bahkan dari masyarakat yang bukan penggila bola sekalipun, membuatnya merasa sangat diapresiasi. Indonesia terasa istimewa.

Ikatan itu tak mudah putus. Meski statusnya sekarang sudah berubah, Shin Tae-yong masih aktif terlibat dalam kancah sepak bola tanah air. Baru-baru ini, dia diperkenalkan sebagai ultra coach dalam sebuah program terbaru dari Clear Men yang fokus pada bibit-bibit muda.

Program itu bukan sekadar teori. Shin terlibat langsung, turun tangan melatih anak-anak muda. Tujuannya jelas: membangun disiplin dan mental juara sejak dini. Fondasi yang kuat di usia muda dianggap kunci untuk mencetak pemain profesional yang tangguh di masa depan.

Dari program ini, akan dipilih 50 peserta terbaik. Dan dari sana, 11 pemain beruntung akan mendapatkan beasiswa eksklusif untuk menuju STY Academy. Ini adalah bentuk dukungan nyata bagi mereka yang punya mimpi besar di dunia sepak bola.

“Perhatian utama saya selalu pada performa pemain,” tegas Shin Tae-yong.

Prinsipnya sederhana tapi jelas. Dia ingin setiap pemain bergerak cepat, aktif, dan punya fokus penuh di lapangan. Hanya dengan begitu, perkembangan maksimal bisa dicapai. Jadi, meski tak lagi memegang kendali penuh tim nasional, semangatnya untuk membangun sepak bola Indonesia ternyata belum padam. Malah, mungkin sedang menemukan bentuk barunya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar