Masa kuliah sering digambarkan sebagai petualangan. Waktunya untuk belajar, cari jati diri, dan ikut organisasi. Tapi gambaran indah itu nggak selalu nyata buat semua orang. Banyak mahasiswa yang hari-harinya terbelah: antara ruang kuliah dan tempat kerja, sambil tetap memikul tanggung jawab besar di keluarga.
Memang, kerja sambil kuliah sering dilihat sebagai kisah inspiratif. Mereka dipuji mandiri dan dianggap jago atur waktu. Anggapan itu sih ada benarnya. Tapi, ada sisi lain yang jarang diungkit: kelelahan yang menumpuk dan tekanan mental yang diam-diam menggerogoti, berbarengan dengan tuntutan akademik yang nggak bisa ditawar.
Hidup dengan Peran Ganda
Buat sebagian mahasiswa, bekerja bukan cuma soal cari pengalaman atau uang jajan tambahan. Ini soal kebutuhan. Kondisi ekonomi keluarga sering bikin fokus kuliah 100% jadi sesuatu yang mustahil. Dalam situasi kayak gini, kuliah dan kerja bukan pilihan, tapi dua kewajiban yang harus diembak bareng-bareng.
Akibatnya? Hidup jadi penuh kompromi. Jadwal belajar harus ngalah sama shift kerja. Yang paling sering dikorbankan ya waktu istirahat itu sendiri. Nggak heran kalau banyak yang masuk kelas dengan mata sembap, atau ngerjakan tugas tengah malam cuma ngandalkan sisa tenaga. Setiap pilihan punya risikonya sendiri, entah itu buat IPK atau buat kesehatan.
Tekanannya nggak cuma fisik. Ada kecemasan membayangi ketika nilai jeblok, ditambah lagi kekhawatiran karena gaji bulanan dirasa masih kurang buat bantu orang tua. Banyak yang memilih untuk diam. Soalnya, mengeluh kadang dianggap sebagai sikap yang nggak bersyukur.
Antara Akademik dan Realitas Kehidupan
Di lingkungan kampus, mereka tetap diharap tampil biasa aja. Datang, aktif, pulang, tanpa banyak cerita. Lelah dianggap wajar, bagian dari "proses". Stres pun dinormalisasi. Ungkapan seperti “yang penting masih bisa kuliah” mungkin terdengar menenangkan, tapi bagi mereka yang hidup di dua dunia, kalimat itu sering nggak nyampe ke hati.
Menjadi mahasiswa sekaligus pekerja sejak muda juga berarti banyak hal harus ditunda. Ikut UKM, eksplor minat, atau sekadar nongkrong santai bisa jadi kemewahan. Hidup berjalan begitu cepat, sementara kesempatan untuk berhenti sejenak dan bernapas terasa makin langka.
Tulisan ini nggak mau meromantisasi kesulitan atau cari belas kasihan. Ini cuma upaya kecil buat melihat realitas yang lebih utuh. Nggak semua mahasiswa punya jalan yang sama. Ada yang bisa konsen penuh ke buku, ada yang harus membagi konsentrasi demi sekadar bertahan.
Memahami ini semua penting banget. Supaya kita nggak gampang menyederhanakan perjuangan orang lain. Terjepit antara kuliah, kerja, dan keluarga itu bukan soal kurang usaha. Ini tentang hidup yang punya tantangannya sendiri. Dan barangkali, dengan mengakui kompleksitas itu, kita bisa mulai saling mengerti.
Artikel Terkait
Ekonom Kritik Perjanjian Dagang Indonesia-AS, Khawatir Hambat Hilirisasi
Analis: Kemunculan Sjafrie dalam Bursa Capres 2029 Pertekan Peluang Gibran
Mentan Gandeng Organisasi Muda untuk Gerakkan Program Strategis Pertanian
Ahli Keuangan Soroti Fenomena Self Reward Generasi Z di Tengah Ketidakmampuan Beli Aset