Ahli Keuangan Soroti Fenomena Self Reward Generasi Z di Tengah Ketidakmampuan Beli Aset

- Jumat, 20 Februari 2026 | 17:00 WIB
Ahli Keuangan Soroti Fenomena Self Reward Generasi Z di Tengah Ketidakmampuan Beli Aset

MURIANETWORK.COM - Generasi Z, yang tumbuh besar di tengah kemajuan teknologi digital, kini menghadapi tantangan ekonomi yang kompleks. Banyak dari mereka yang baru memasuki dunia kerja justru terjebak dalam pola konsumsi berlebihan, atau yang kerap disebut 'self reward', sebagai bentuk kompensasi atas masa sulit dan tekanan finansial yang dihadapi. Fenomena ini dianalisis oleh para ahli sebagai respons psikologis terhadap situasi ekonomi yang membuat aset besar seperti rumah terasa semakin sulit terjangkau.

Kecenderungan "Balas Dendam" Setelah Dapat Pekerjaan

Perencana keuangan Yodhi Kharismanto mengamati, kondisi pasar kerja yang kompetitif dan penuh ketidakpastian turut membentuk pola pikir generasi ini. Setelah melalui fase di mana penghasilan sangat terbatas atau masih bergantung pada orang tua, memiliki pekerjaan tetap kerap memicu keinginan untuk memenuhi segala hal yang sebelumnya tak terjangkau.

“Nah, saat pendapatannya sudah hadir, dia merasa ada, mungkin balas dendam kali ya untuk bisa menikmati kehidupannya dengan senyaman mungkin, sehingga saat gajinya datang kecenderungannya akhirnya dia menggunakan untuk menikmati hal-hal yang dia tidak bisa nikmati sebelumnya,” tuturnya dalam sebuah diskusi.

Mengapa "Kepuasan Instan" Lebih Menarik Ketimbang Investasi?

Yodhi menjelaskan, situasi ini memperkuat kecenderungan psikologis yang dikenal sebagai present bias, yaitu preferensi untuk mendapatkan imbalan kecil yang bisa dinikmati seketika, ketimbang mengejar keuntungan besar di masa depan yang membutuhkan kesabaran dan disiplin.

Menurutnya, semakin jauh jarak antara penghasilan dengan harga aset investasi konvensional, semakin kuat pula godaan untuk beralih pada kepuasan instan. Imbalan kecil tersebut setidaknya memberikan rasa senang yang langsung bisa dirasakan, berbeda dengan target finansial jangka panjang yang terasa abstrak dan sulit.

“Lebih senang untuk mendapat instant gratification sekarang daripada nanti karena saking sulitnya untuk bisa rumah, mobil, tanah, gitu kan, karena orang-orang dari zaman dulu kan selalu bilang jangan lupa nanti investasi ke tanah ya, ke mobil ya, mereka kan tidak tahu, zaman sekarang untuk dapat itu susah banget,” jelas Yodhi.

Contoh Nyata dari Lapangan

Ia kemudian memberikan gambaran konkret dari Yogyakarta. Dengan Upah Minimum Regional (UMR) yang berada di kisaran Rp 2,4 juta, mustahil bagi banyak pekerja muda untuk membayangkan memiliki rumah atau tanah di tengah lonjakan harga properti yang terjadi saat ini.

Realitas inilah, lanjut Yodhi, yang pada akhirnya menumbuhkan semacam keputusasaan atau rasa pesimis terhadap perencanaan investasi tradisional. Alih-alih memaksakan diri untuk mengejar target yang tampak mustahil, banyak yang memilih untuk menikmati hal-hal yang lebih mudah diraih dengan penghasilan mereka saat ini.

Self Reward Boleh, Asal Tidak Berlebihan

Meski memahami akar masalahnya, Yodhi menekankan pentingnya keseimbangan. Menghargai diri sendiri setelah bekerja keras adalah hal yang wajar dan manusiawi. Namun, hal itu perlu dilakukan dengan perhitungan yang matang agar tidak berubah menjadi kebiasaan konsumtif yang justru merusak stabilitas keuangan di kemudian hari.

“Itu sebenarnya wajar ya, bukan berarti kita menyalahkan, bukan berarti itu salah untuk menyenangi diri sendiri, itu wajar sekali cuma jangan sampai akhirnya lupa diri ya dan berlebihan, self reward boleh tapi kalau dikalkulasi dengan matang,” pungkasnya.

Analisis ini menggarisbawahi dilema yang dihadapi generasi muda di tengah kesenjangan antara ekspektasi, tekanan gaya hidup digital, dan realitas ekonomi yang penuh tantangan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar