MURIANETWORK.COM - Fenomena 'working poor' atau pekerja miskin mulai menjadi perhatian serius di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda. Ekonom Shafa Kalila dari CELIOS menjelaskan, kondisi ini merujuk pada orang-orang yang sudah bekerja namun tetap rentan terhadap kemiskinan karena pendapatan yang tidak mencukupi. Analisis ini didasarkan pada data upah, inflasi, dan struktur ketenagakerjaan Indonesia yang menunjukkan ketimpangan antara penghasilan dan biaya hidup.
Data Upah dan Inflasi yang Mengkhawatirkan
Shafa mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025 yang menunjukkan gambaran suram. Rata-rata upah bulanan pekerja Generasi Z (usia 20-29 tahun) masih berkisar antara Rp 2,7 hingga 3,2 juta. Angka ini tidak banyak bergerak, mengingat rata-rata kenaikan upah justru tercatat minus 0,06 persen pada periode yang sama.
Di sisi lain, inflasi terus bergerak naik dan telah mencapai 2,72 persen. Kombinasi kedua data ini menciptakan tekanan ekonomi yang nyata bagi para pekerja muda.
"Jadi, bukannya ada peningkatan, tapi ada penurunan," ungkap Shafa. "Ada ketidakseimbangan angka dari pendapatan yang dimiliki oleh masyarakat, terutama dari Gen Z ini yang upahnya juga enggak gede-gede banget ini, dengan pengeluaran yang makin hari makin gede."
Dominasi Sektor Informal dan Dampaknya
Masalah struktural yang lebih dalam turut memperparah situasi. Shafa menjelaskan bahwa pasar tenaga kerja Indonesia masih didominasi oleh pekerja sektor informal, yang mencapai sekitar 58 persen. Hanya 42 persen sisanya yang bekerja di sektor formal dengan kontrak dan jaminan yang lebih jelas.
Artikel Terkait
Standing Ovation dari Tifosi Inter untuk Bastoni di Tengah Sorotan Negatif
Pemulihan Pascabencana Sumatera Diperkirakan Rampung dalam Tiga Tahun
Kiper Bosnia Curi Catatan Penalti Donnarumma, Picu Kontroversi di Laga Internasional
Mahasiswa Blokade Flyover Makassar, Tuntut Penuntasan Kasus Penyiraman Air Keras