MURIANETWORK.COM - Layanan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta akhirnya kembali beroperasi normal setelah insiden tertabrak truk tronton di dekat Stasiun Poris, Tangerang, pada Jumat (20/2/2026) pagi. Proses evakuasi kereta dan perbaikan prasarana yang rusak telah rampung, sehingga jalur ganda antara Stasiun Poris dan Batu Ceper kembali aman dilintasi mulai pukul 17.00 WIB.
Pemulihan Layanan dan Normalisasi Prasarana
Setelah beberapa jam mengalami gangguan signifikan, aktivitas perkeretaapian di segmen tersebut secara bertahap pulih. KAI Commuter memastikan bahwa kereta Commuter Line kini sudah dapat melintas di kedua jalur kembali. Sebelumnya, operasi terpaksa dialihkan hanya ke satu jalur untuk memungkinkan proses evakuasi dan perbaikan berjalan lancar.
Kerusakan yang terjadi tidak hanya pada badan kereta. Tiang dan kabel listrik aliran atas (LAA) yang terdampak juga berhasil diperbaiki oleh petugas di lapangan. Upaya penyelesaian ini dilakukan dengan cepat untuk meminimalisir dampak terhadap ribuan penumpang yang bergantung pada layanan ini, terutama yang menuju Bandara Soekarno-Hatta.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan bahwa pemulihan penuh masih terus dilakukan. "Petugas terkait di lokasi juga masih terus melakukan normalisasi prasarana agar perjalanan kereta kembali normal melintas di kedua jalur secara aman sesuai kecepatan operasional," jelasnya.
Dampak Gangguan terhadap Operasional
Insiden yang terjadi di Petak Jalur Lintas (PJL) 21 itu sempat mengakibatkan gangguan operasi yang cukup luas. Selama proses penanganan, KAI Commuter terpaksa membatalkan sejumlah perjalanan. Data yang dirilis menunjukkan ada 33 perjalanan Commuter Line Bandara dan 16 perjalanan Commuter Line Tangerang yang dibatalkan.
Artikel Terkait
Donnarumma Bantah Isu Minta Bonus, Ungkap Luka Terbesar Setelah Italia Gagal ke Piala Dunia
Pertamina Siapkan Strategi Lima Pilar Hadapi Gejolak Energi Global 2026
Bank Dunia Soroti Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Ginandjar Kartasasmita: Kunci Pulihkan Rupiah Bukan Cetak Uang, Tapi Kepercayaan