MURIANETWORK.COM - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Meutya Hafid menilai keterlibatan Indonesia dalam forum Board of Peace (BoP) menandai babak baru diplomasi negara ini untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Meutya menjelaskan bahwa peran Indonesia kini menjadi lebih strategis dan aktif, tidak lagi sekadar menyampaikan kecaman atau bantuan kemanusiaan.
Perubahan Pendekatan Diplomasi
Selama ini, upaya Indonesia di panggung internasional seringkali terbatas pada sikap politik dan dukungan kemanusiaan. Menurut Meutya, meski konsisten, pendekatan tersebut memiliki keterbatasan dalam hal keterlibatan langsung dan pengaruh operasional di lapangan.
“Ini sejarah baru maksudnya sebelum-sebelumnya kita melakukan pendekatan terhadap sikap kita untuk kemerdekaan Palestina dengan cara tentu setiap ada aksi serangan kita mengecam, di PBB kita mengecam. Tapi sulit sekali kita masuk dan terlibat aktif sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi,” jelas Meutya Hafid.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan aktif sebelumnya lebih banyak berbentuk proyek fisik dan bantuan logistik. Namun, tanpa wadah atau mandat yang jelas, ruang gerak Indonesia untuk berkontribusi lebih jauh terasa sempit.
“Cara kita terlibat aktif sebelumnya adalah membangun rumah sakit, kemudian juga yang paling utama itu ya, bantuan-bantuan baik dari pemerintah maupun dari masyarakat, tapi tidak bisa banyak atau lebih dari itu,” ujarnya.
“Karena memang forumnya tidak ada dan juga wadah untuk melakukan itu tidak ada. Kita enggak mungkin tiba-tiba bisa ngirim pasukan kita ke sana seperti yang kita sekarang lakukan,” sambungnya.
Lompatan Strategis dan Tanggung Jawab Baru
Keikutsertaan dalam BoP, yang baru saja menggelar pertemuan pertamanya, mengubah dinamika tersebut secara signifikan. Forum ini membuka jalan bagi Indonesia untuk tidak hanya hadir, tetapi juga memegang peran komando dalam misi perdamaian.
Peran baru ini diwujudkan dengan penunjukan Indonesia sebagai wakil komandan dalam misi International Stabilization Force (ISF), yang akan melibatkan pengiriman ribuan personel pasukan perdamaian.
“Berarti untuk hal-hal giat kemanusiaan yang dilakukan oleh tentara-tentara tidak hanya Indonesia tapi banyak negara di sana, kita punya say atau komando yang cukup kuat,” katanya.
Pencapaian dalam forum internasional itu, menurut Meutya, membawa perasaan lega dan kebanggaan. Ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan kemajuan besar yang telah lama dinantikan.
“Saya rasa ini yang membuat kita kemarin cukup lega, bangga, melihat hasil dari pertemuan pertama BoP yang kemarin diselenggarakan di Amerika,” lanjut dia.
Meninggalkan Posisi Penonton
Meutya menekankan bahwa langkah strategis ini menandai pergeseran penting dalam politik luar negeri Indonesia. Negara ini, tuturnya, harus bergerak melampaui posisi sebagai pengamat pasif dalam isu-isu global yang menjadi perhatian konstitusi dan rakyatnya.
Dengan nada tegas, ia menyimpulkan bahwa momentum ini adalah lompatan yang tepat waktu dan diperlukan.
“It's a big step dan sudah saatnya,” tutup Meutya Hafid.
Artikel Terkait
Rano Karno Klaim 97% Program Kerja Tahun Pertama Pramono Anung Tuntas, Fokus 2026 pada Banjir, Macet, dan Kemiskinan
Kawasan Kota Tua Jakarta Tetap Buka Saat Ramadan 2026 dengan Penyesuaian Jam Operasional
Menteri Kebudayaan dan Dubes Yaman Bahas Kerja Sama Seni hingga Warisan Budaya
ART di Bogor Dilaporkan Dianiaya Majikan hingga Luka-luka