Bitcoin kembali bergerak turun. Dalam 24 jam terakhir, harga aset kripto terbesar itu terkoreksi, menyentuh level sekitar USD 66.450 atau kalau dirupiahkan kira-kira Rp 1,11 miliar. Penurunan ini terjadi setelah notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) AS beredar dan memicu sentimen negatif di pasar.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menanggapi pergerakan ini dengan cukup tenang. Menurutnya, koreksi pasca-rilis FOMC adalah hal yang wajar dan sifatnya cenderung sementara.
"Investor global saat ini hanya sedang melakukan penyesuaian terhadap timeline pemangkasan suku bunga The Fed. Meskipun Bitcoin saat ini berada di bawah USD67.000, pergerakan ini masih berada dalam rentang konsolidasi yang sehat," ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Antony menambahkan bahwa area USD 64.000 merupakan titik support kuat berdasarkan pola historis. Fase konsolidasi seperti ini, katanya, justru sering menjadi fondasi sebelum pasar kembali menguat.
Lalu, apa isi notulensi FOMC yang bikin pasar ciut? Rupanya, meski mayoritas pejabat The Fed sepakat mempertahankan suku bunga, ada perbedaan pandangan yang cukup mencolok soal langkah ke depan. Sebagian masih membuka peluang kenaikan suku bunga kalau inflasi bandel, sementara yang lain justru memberi sinyal pemangkasan jika tekanan harga mereda.
Kondisi 'higher for longer' ini suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama langsung berdampak. Indeks Dolar AS (DXY) menguat ke kisaran 97,7 dan otomatis menekan aset-aset berisiko, termasuk kripto. Data dari CME Group lewat FedWatch Tool pun menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga sebelum Juni berada di bawah 50%. Angka itu jelas mencerminkan kehati-hatian pasar.
Di tengah semua gejolak global, Antony justru menyoroti pentingnya stabilitas kebijakan dalam negeri. Ia menilai keputusan suku bunga Bank Indonesia yang bertahan di kisaran 4,75–5,5% turut membantu menjaga likuiditas dan kepercayaan investor lokal.
"Di tengah dinamika suku bunga dan isu geopolitik global yang masih dinamis, investor kripto tidak perlu panik. Justru, kondisi makroekonomi seperti ini kembali mengingatkan kita pada fungsi utama Bitcoin sebagai aset lindung nilai jangka panjang yang tangguh," tambahnya.
Ia melihat momen ini justru bisa jadi peluang bagi investor untuk merencanakan portofolio dengan lebih matang.
Menyikapi volatilitas yang mungkin berlanjut, Indodax mengimbau investor untuk tetap rasional. Penerapan manajemen risiko yang disiplin jadi kunci. Strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) investasi bertahap secara rutin dinilai masih relevan untuk memitigasi guncangan harga di tengah tekanan faktor makroekonomi global yang belum jelas ujungnya.
Artikel Terkait
Pemegang Saham Utama Panca Global Kapital Kembali Divestasi 4,45% Saham
OJK Jatuhkan Denda Miliaran Rupiah ke Influencer dan Pelaku Manipulasi Saham
DPR dan Pemerintah Pacu Program Rumah MBR, Anggaran Naik Rp10,89 Triliun
OJK Siapkan Daftar Saham dengan Konsentrasi Kepemilikan Tinggi