Profesor UGM Soroti Demokrasi: Ini Bukan Patah Hati, Tapi Mengelola Harapan

- Selasa, 06 Januari 2026 | 07:25 WIB
Profesor UGM Soroti Demokrasi: Ini Bukan Patah Hati, Tapi Mengelola Harapan

Strategi Baru: Bergerak Seperti Akar

Lalu, apa solusinya? Zainal menawarkan konsep "gerakan rizomatik" atau gerakan akar rimpang. Bayangkan saja akar tanaman yang dipotong di satu tempat, tapi tetap menjalar ke tempat lain. Begitulah gerakan masyarakat sipil seharusnya. Tidak bergantung pada tokoh besar, tapi menyebar dan tumbuh dari akar rumput.

Film dokumenter "Dirty Vote" yang ia buat bersama beberapa wartawan adalah contoh nyata. Yang pertama ditonton puluhan juta orang. Sekuelnya sudah mencapai hampir 1,8 juta penonton. "Kami membangun kesadaran melalui film. Ini bukan untuk ditonton sekaligus, tapi dicicil dalam 4 tahun," ujarnya, setengah bergurau.

Menolak Jabatan, Memilih Kritis

Menariknya, jalan untuk masuk ke dalam sistem dan berubah dari dalam pernah terbuka lebar untuknya. Tahun 2012, ia ditawari jadi staf khusus presiden bidang hukum. Tapi tawaran itu ditolaknya.

"Saya percaya perbaikan bisa dari dalam, tapi harus ada yang bertarung di luar juga. Tidak semua harus masuk istana," jelasnya.

Namun begitu, ia pernah juga duduk di posisi seperti Wakil Ketua Komite Pengawas Perpajakan dan anggota Dewan Audit OJK. Di sana pun sikap kritisnya tak luntur. "Dengan Edi OS Hiariej misalnya, kami berdebat habis-habisan soal KUHP, tapi secara personal tetap akrab," kenangnya.

Akademisi dan Tantangan Era Digital

Zainal juga menyentil rekan-rekan akademisinya. Banyak yang hebat secara keilmuan, tapi gagal menyuarakan pendapat ke publik. "Sehebat apa pun seorang Jimly Asshiddiqie dengan follower segitu, kalah telak dengan Raffi Ahmad dalam mempengaruhi massa," katanya, menyiratkan sebuah realitas yang pahit.

Harapannya sederhana: ruang publik jangan sampai kosong atau dipenuhi hal-hal dangkal. Ruang seperti podcast tempat ia diwawancarai inilah, katanya, yang perlu diperbanyak.

Sebagai penutup, ia berpesan. Persatuan gerakan sipil itu penting, meski strateginya boleh berbeda-beda. "Orang boleh berbeda gerbong, tapi tujuannya harus sama," pungkasnya.


Halaman:

Komentar