Demokrasi Kita, Harapan yang Terus Tertunda?
Udara Yogyakarta terasa hangat siang itu ketika Prof. Zainal Arifin Mochtar duduk untuk berbincang. Baru dikukuhkan sebagai profesor hukum tata negara UGM, suaranya justru tak berhenti mengkritik. Menurutnya, demokrasi Indonesia tak sedang baik-baik saja. Malah, ia melihat kemunduran yang nyaris tak terbendung. Harapan untuk perbaikan di bawah pemerintahan sekarang? Sangat sulit, katanya.
"Negara ini sudah terlalu kuat, Bang. Yang harus dikuatkan itu masyarakat sipil," ujar Zainal, tegas.
Ia tak sekadar berkeluh kesah. Ada tiga poin utama yang ia soroti sebagai biang keladi kemunduran itu. Pertama, soal lembaga negara yang dianggap gagal menjalankan tugasnya. Yudikatif, katanya, dijinakkan. Sementara eksekutif dan legislatif main mata untuk mematikan suara oposisi.
Lalu, sistem pemilu kita. Menurut Zainal, ia punya regularitas, tapi jauh dari jujur dan adil. "Selalu ada korban nyawa, kekerasan, atau masalah perolehan suara," tambahnya. Faktor ketiga adalah masyarakat sipil yang melemah, terpinggirkan oleh obrolan demokrasi yang elitis dan cuma berputar di kalangan tertentu.
Panggung Politik yang Sudah Diatur
Ketika bicara soal pemenang pilpres lalu, Zainal tak pakai basa-basi. Ia menyebut kemunculan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden tak lain adalah "anak haram konstitusi." Istilah yang keras, memang. Untuk menggambarkan situasi politik secara keseluruhan, ia meminjam konsep "kompetitif autoritarianisme".
"Ada kompetisinya tapi pemenangnya diatur. Semua negara digerakkan untuk itu. Itu sebabnya kita bikin Dirty Vote 2," ungkapnya.
Dari sanalah, rasa percaya dirinya pupus. Baginya, tawaran dari Gibran dan Prabowo sulit diharapkan membawa perubahan berarti. "Orang yang menang dengan kecurangan akan mengalami insecurity. Kebijakannya akan tambal sulam atau maju terus tanpa malu," kritiknya pedas.
Bukan Patah Hati, Tapi Mengelola Harapan
Di sisi lain, Zainal menampik anggapan bahwa perjuangannya dilandasi keromantisan pada masa lalu atau kekecewaan pada satu figur. Bagi dia, ini soal warisan untuk generasi mendatang. "Saya tidak berpretensi untuk dinikmati oleh saya atau Bang Akbar. Ini titipan dari anak cucu kita," jelasnya.
Soal Jokowi, ia juga menolak cap "patah hati". Baginya, politik adalah dinamika. "Pemilu itu cara kita mengelola harapan. Hari ini dia berkhianat, besok kita hijrah," ujarnya santai. Ia sendiri mengaku pernah memilih PSI di 2019, lalu mengkritiknya habis-habisan di 2023, sebelum akhirnya beralih ke Partai Buruh di 2024.
Artikel Terkait
Otak Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto Segera Hadapi Sidang
Tenda Pengungsian di Gaza Diserang Drone, Lima Anak di Antaranya Tewas
Mabuk dan Tuduhan Uang Patungan, Seorang Pria Tewas Dianiaya Teman Minumnya di Rappocini
Bos Kejahatan Cyber Chen Zhi Diekstradisi dari Kamboja, Aset Triliunan Rupiah Disita