Masjid Al-Huda di Pedukuhan Gari, Wonosari, Gunungkidul, kini cuma tinggal kenangan. Bangunannya sudah rata dengan tanah, dibongkar habis oleh warga sendiri. Ironisnya, hingga detik ini, janji donatur yang jadi alasan pembongkaran itu masih menguap begitu saja.
Padahal, untuk membangun kembali satu-satunya rumah ibadah di pedukuhan itu, dibutuhkan dana tak main-main: sekitar Rp 1,8 miliar.
Ketua Panitia Pembangunan, Budi Antoro, mengaku sempat berencana memulai pengerjaan usai Lebaran.
"Rencananya sih mau bangun yang besar, anggarannya ya sekitar segitu, Rp 1,8 miliar," ujar Budi via telepon, Senin lalu.
Sayangnya, semua itu masih sebatas rencana. Awal ceritanya, seorang donatur yang disebut-sebut berinisial H dari Ngawen berjanji mau membiayai pembangunan masjid baru. Syaratnya cuma satu: bangunan lama harus dirobohkan dulu. Warga pun, dengan penuh harap, menuruti permintaan itu.
Namun begitu masjid itu rubuh, H menghilang bagai ditelan bumi. Komunikasi yang awalnya lancar tiba-tiba terputus sama sekali.
Warga kemudian curiga. Mereka pun melakukan pengecekan. Ternyata, H diduga mencatut nama sebuah yayasan dan sejumlah tokoh. Janjinya ternyata omong kosong.
Artikel Terkait
Hunian Sementara dan Harapan Baru untuk Warga Bukit Tempurung
Trump Minta Damai di Suriah: AS Berhubungan Baik dengan Dua Kubu yang Bertikai
KPK Tetapkan Gus Yaqut Tersangka Dugaan Korupsi Kuota Haji
Kuasa Hukum Tantang Eggi Sudjana dan Kawan-Kawan Bersaksi di Sidang Ijazah Jokowi