Siang itu di Jalan Tambak, Jakarta Pusat, panasnya benar-benar menyengat. Bagi para pejalan kaki, berjalan di trotoar yang ada terasa seperti sebuah tantangan. Ukurannya sempit, dan itu belum seberapa. Mereka harus berbagi, atau lebih tepatnya berebut, ruang dengan para pedagang kaki lima yang memadati area tersebut.
Belum lagi masalah kendaraan yang parkir seenaknya. Rasanya, semua indera jadi ikut 'sengsara'. Aroma tak sedap dari tumpukan sampah yang menggunung di beberapa titik semakin menambah suasana tak nyaman.
Jalan kaki di sini memang butuh kewaspadaan ekstra. Sebentar jalanan mulus, eh, tak beberapa langkah kemudian bertemu dengan lubang menganga. Kalau tidak hati-hati, salah langkah sedikit, kaki bisa terkilir atau bahkan terjungkal.
Menurut sejumlah saksi, situasi ini makin parah dengan adanya proyek LRT yang sedang dikerjakan di sekitarnya. Ruas jalan pun jadi menciut. Alhasil, kendaraan yang melintas terpaksa memepet ke arah trotoar, mempersempit ruang gerak pejalan kaki hingga ke pinggir yang berbahaya.
Hadiat, seorang warga berusia 78 tahun, mengeluhkan betapa sempitnya trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki.
"Gak tau itu sampah siapa, ya harus (melipir) ke jalan," ujarnya dengan suara lirih, Jumat (21/11) siang. Ia terpaksa turun ke badan jalan karena jalannya terhalang sampah.
Meski sempat mendengar kabar tentang rencana pelebaran jalan, harapannya tak terlalu besar. Ia memilih untuk pasrah dan menyerahkan semuanya kepada pemerintah daerah.
"Kalau itu (perbaikan) terserah pemerintah aja," tambahnya dengan nada pasrah.
Di lokasi yang sama, Aldo (29) membenarkan bahwa kondisi trotoar di Jalan Tambak benar-benar mengkhawatirkan. Setiap hari, rasa cemas selalu menghantuinya.
Kekhawatiran tertabrak kendaraan yang melaju kencang adalah hal yang nyata, mengingat trotoar seringkali tak bisa dilalui karena penuh sampah dan kendaraan parkir.
"Khawatir pasti. Apalagi suka ada yang ngebut kan. Kayanya harus siap ditabrak," katanya sambil terkekeh, meski terasa ada kepasrahan dalam candaannya.
Aldo berharap pengerjaan proyek kereta yang membuat situasi semakin ruwet itu bisa cepat selesai. Setelah itu, perbaikan trotoar menjadi harapan besarnya.
"Jangan ada korban dululah," pungkasnya, berharap tidak ada musibah yang terjadi sebelum perbaikan dilakukan.
Artikel Terkait
Ledakan Petasan di Balon Udara Blitar Tewaskan Pemuda, Lukai Dua Anak
Perindo Sultra Kurban Lima Sapi untuk Warga Kurang Mampu di Kendari
Atta Halilintar Sebar 12 Ekor Sapi Kurban ke Sejumlah Daerah di Jawa Barat
Ria Ricis Buka Suara soal Operasi Hidung: Bukan demi Estetika, tapi karena Gangguan Pernapasan Akibat Tulang Bengkok