"Yayasannya memang ada, tapi tidak ada persetujuan resmi untuk donasi ke kami. Begitu kenyataannya," jelas Budi dengan nada kecewa.
Mereka merasa tertipu, ya. Tapi mau bagaimana lagi? Keadaan sudah telanjur. Alih-alih berpangku tangan, warga kini berupaya keras mengumpulkan dana secara swadaya. Sedikit demi sedikit, sumbangan mulai mengalir. Dana yang terkumpul itu langsung mereka gunakan untuk bergerak, memulai dari nol.
"Sekarang kami sudah mulai bikin fondasi talud. Pekerjaan dimulai pelan-pelan saja," tuturnya.
Yang menarik, meski merasa diperdaya, warga memilih jalan lain. Mereka tak berniat melaporkan kasus ini ke polisi. Bagi mereka, ada pengadilan yang lebih tinggi.
"Kami enggak akan menuntut secara hukum. Biarlah Allah sendiri yang urusannya," pungkas Budi, menutup pembicaraan.
Kini, di atas tanah lapang itu, hanya tersisa semangat warga untuk bangkit. Sebuah fondasi kecil mulai digali, menjadi tanda dimulainya sebuah perjuangan baru yang sepenuhnya bergantung pada kekuatan mereka sendiri.
Artikel Terkait
Hunian Sementara dan Harapan Baru untuk Warga Bukit Tempurung
Trump Minta Damai di Suriah: AS Berhubungan Baik dengan Dua Kubu yang Bertikai
KPK Tetapkan Gus Yaqut Tersangka Dugaan Korupsi Kuota Haji
Kuasa Hukum Tantang Eggi Sudjana dan Kawan-Kawan Bersaksi di Sidang Ijazah Jokowi