Cinta Tanpa Sorak: Nasionalisme Sunyi Kaum Salafi di Indonesia

- Minggu, 04 Januari 2026 | 06:06 WIB
Cinta Tanpa Sorak: Nasionalisme Sunyi Kaum Salafi di Indonesia

Cinta Salafi pada Indonesia juga terlihat dari orientasi dakwahnya. Fokus utama mereka sederhana: perbaikan individu. Mulai dari akidah yang lurus, ibadah yang benar, sampai akhlak yang baik. Logikanya mendasar: masyarakat yang bermoral akan melahirkan negara yang kuat.

Alih-alih sibuk mengejar kekuasaan atau memaksakan perubahan sistem, mereka memilih jalur pendidikan jangka panjang. Pendekatan ini mungkin terlihat kurang heroik. Tapi justru strategis. Sejarah membuktikan, negara jarang runtuh karena perbedaan pandangan. Lebih sering, kehancuran datang dari kekerasan dan kerusakan moral yang dibiarkan merajalela.

Sunyi dan Lelahnya Mencintai Negeri

Tapi tidak semua cinta terasa manis. Bagi sebagian Salafi, mencintai Indonesia justru kerap terasa sunyi dan, ya, melelahkan.

Di satu sisi, mereka diajarkan untuk taat hukum dan menolak segala bentuk kekerasan. Di sisi lain, setiap kali isu terorisme mencuat bahkan yang terjadi di belahan dunia lain kecurigaan langsung mengarah ke mereka. Mereka menolak ideologi kekerasan itu, tapi stigma tetap melekat kuat.

Ini paradoks yang menyakitkan. Mereka diminta setia, tetapi kesetiaannya sering dipertanyakan. Mereka tidak memberontak, tidak memprovokasi. Justru karena sikapnya yang "terlalu diam" itulah, mereka dianggap kurang layak dipercaya. Seolah-olah cinta itu harus selalu diteriakkan agar dianggap sah.

Yang lebih pahit, Salafi kerap dipaksa bertanggung jawab atas tindakan yang tidak mereka lakukan. Kesalahan segelintir orang dijadikan alasan untuk mencurigai seluruh komunitas yang hidup damai. Meski begitu, pilihan mereka tetap satu: bertahan pada jalur damai. Bukan karena lemah, tapi karena keyakinan bahwa merusak negeri sendiri atas nama apapun bukanlah bentuk cinta sejati.

Berdampingan, Bukan Bertentangan

Pada akhirnya, Salafi tidak memandang Indonesia sebagai entitas yang harus dilawan. Selama kebebasan beribadah dijamin dan hukum tidak memaksa pelanggaran akidah, negara adalah kesepakatan bersama yang sah. Nasionalisme tidak diposisikan sebagai tandingan iman.

Masalah baru muncul ketika nasionalisme dijadikan alat untuk menguji keimanan seseorang, atau ketika ketaatan beragama dicurigai sebagai ancaman politik terselubung.

Bentuk cinta Salafi pada Indonesia memang tidak hadir dalam sorak-sorai. Ia lebih banyak tampil dalam sikap hidup: tertib, damai, dan taat hukum seperti yang dicontohkan para tokohnya. Negeri ini tidak hanya butuh warga yang pandai berslogan, tapi juga warga yang dengan sadar memilih untuk tidak merusak. Dalam hal itu, Salafi sudah lama membuktikan bahwa setia pada agama dan mencintai negara bisa berjalan beriringan. Meski, seringkali, tanpa tepuk tangan.


Halaman:

Komentar