Pekan pertama perdagangan di Januari 2027 ternyata cukup menggembirakan bagi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat signifikan, ditutup pada level 8.936,754. Angka ini menunjukkan kenaikan lebih dari 2 persen dibanding penutupan pekan sebelumnya yang berada di 8.748,132. Bahkan, semangat beli sempat mendorong IHSG menembus level psikologis 9.002 pada Kamis lalu.
Kinerja positif itu bukan cuma di indeks. Kapitalisasi pasar BEI juga ikut terdongkrak naik 1,79 persen, menjadi Rp 16.301 triliun.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, memberikan rincian lebih lanjut. Menurutnya, aktivitas perdagangan di pasar saham menunjukkan geliat yang luar biasa.
“Rata-rata frekuensi transaksi harian juga meningkat sebesar 42,74 persen menjadi 3,98 juta kali transaksi, dari 2,79 juta kali transaksi pada pekan lalu,” kata Kautsar dalam keterangannya, Sabtu (10/1).
Yang menarik, meski frekuensi naik, nilai transaksi justru melonjak lebih tinggi. Rata-rata nilai transaksi harian BEI melesat 44,68 persen menjadi Rp 31,45 triliun. Peningkatan tertinggi justru ada di volume.
“Peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata volume transaksi harian Bursa pada pekan ini yaitu sebesar 48,08 persen menjadi 61,78 miliar lembar saham,” lanjutnya.
Di balik semua ini, investor asing tampaknya tak mau ketinggalan. Mereka mencatatkan pembelian bersih senilai Rp 2,56 triliun hanya dalam sehari. Secara akumulatif sepanjang 2026, arus masuk modal asing ini sudah mencapai Rp 3,1 triliun.
Sementara di sisi pasar surat utang, ada beberapa pencatatan baru yang patut dicatat. Pada Rabu (7/1), PT Eagle High Plantations Tbk mencatatkan obligasi dan sukuknya di BEI. Nilainya cukup besar, masing-masing Rp 210 miliar dan Rp 290 miliar.
Berdasarkan hasil pemeringkatan PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), obligasi tersebut berperingkat idA- (Single A Minus) dan sukuk berperingkat idA-sy (Single A Minus Syariah), dengan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk bertindak sebagai Wali Amanat.
Tak ketinggalan, di hari yang sama, PT Summarecon Agung Tbk juga mendaftarkan obligasi senilai Rp 351,96 miliar. Obligasi ini mendapat peringkat lebih tinggi, idA dari PEFINDO, dengan BRI sebagai wali amanat.
Kalau dirangkum, sepanjang 2026 ini sudah ada 4 emisi dari 3 emiten dengan total nilai Rp 216,97 triliun yang tercatat. Dengan tambahan ini, jumlah keseluruhan obligasi dan sukuk di BEI menjadi 662 emisi. Nilai nominalnya mencapai Rp 539,79 triliun plus USD 134,01 juta, yang diterbitkan oleh 136 emiten.
Bagaimana dengan instrumen lainnya? Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat berjumlah 190 seri dengan nilai fantastis: Rp 6.484,29 triliun. Sementara Efek Beragun Aset (EBA) ada 6 emisi dengan total nilai Rp 3,99 triliun. Pekan yang cukup padat dan memberi sinyal awal yang positif untuk tahun ini.
Artikel Terkait
Pendapatan Non-Tambang PT Dian Swastatika Sentosa Naik Jadi 7,6 Persen, Didorong Bisnis Digital dan Teknologi
Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
IPCM Alokasikan Rp74 Miliar untuk Pengadaan Kapal Baru pada 2026
PGUN Kejar Target Free Float 12,5 Persen pada 2027, Siapkan Skema Pelepasan Saham Bertahap