Komisi Percepatan Reformasi Polri secara resmi membuka ruang kritik dan masukan dari seluruh lapisan masyarakat. Pernyataan ini disampaikan oleh Komaruddin Hidayat, perwakilan Gerakan Nurani Bangsa, usai pertemuan dengan komisi reformasi di STIK-PTIK, Kamis (13/11).
Komaruddin menegaskan bahwa lembaga reformasi kepolisian ini menerima dengan terbuka semua bentuk pengawasan dari masyarakat. "Komisi Percepatan Reformasi Polri membuka diri bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk intelektual, agamawan, dan profesional untuk menyampaikan kritik konstruktif. Komisi ini siap dipantau dan dikawal kinerjanya secara transparan," jelasnya.
Menurut Komaruddin, profesi kepolisian memiliki tugas mulia dalam menjaga ketertiban sosial dan moral masyarakat. Karena itu, kritik dari masyarakat merupakan hal wajar dan diperlukan untuk mendukung perbaikan kinerja Polri. "Sangat logis jika masyarakat memberikan masukan ketika tugas mulia ini terganggu oleh perilaku oknum yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kepolisian," tambahnya.
Dalam pertemuan yang sama, Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri Jimly Asshiddiqie mengkonfirmasi telah menerima berbagai masukan penting dari Gerakan Nurani Bangsa. Salah satu poin kunci yang dibahas adalah usulan dari Sinta Nuriyah Wahid, istri Presiden ke-4 RI, mengenai pentingnya netralitas Polri dari kepentingan politik dan bisnis.
Jimly menyatakan, "Kami mencatat berbagai masukan berharga tentang strategi melindungi institusi kepolisian dari intervensi politik dan praktik bisnis yang dapat mengganggu independensi Polri."
Artikel Terkait
Ria Ricis Buka Suara soal Operasi Hidung: Bukan demi Estetika, tapi karena Gangguan Pernapasan Akibat Tulang Bengkok
MUI: Penggunaan APBN untuk Hewan Kurban Presiden Tidak Melanggar Syariat Islam
Remaja 19 Tahun Tega Bunuh dan Cabuli Bocah SD di Makassar, Polisi Tangkap Pelaku Saat Buat Keributan
Sapi Limosin 1,2 Ton Bantuan Presiden untuk Iduladha di Karawang Sempat Stres Nyaris Serang Petugas