Bamsoet: Semangat Kurban Jadi Fondasi Ketahanan Nasional di Tengah Tekanan Global

- Rabu, 27 Mei 2026 | 21:40 WIB
Bamsoet: Semangat Kurban Jadi Fondasi Ketahanan Nasional di Tengah Tekanan Global

Anggota DPR RI Bambang Soesatyo, yang akrab disapa Bamsoet, melaksanakan pemotongan hewan kurban pada Idul Adha 1447 Hijriah di tiga titik di Jawa Tengah, yakni di kantor DPD Partai Golkar Kebumen, Banjarnegara, dan Purbalingga. Sebanyak tiga ekor sapi disembelih dalam rangkaian ibadah tahunan tersebut.

Di tengah pelaksanaan ibadah kurban, Bamsoet menyampaikan pandangannya bahwa peringatan Idul Adha harus dimaknai secara lebih luas, tidak sekadar ritual keagamaan. Menurutnya, momen ini menjadi pengingat akan pentingnya memperkuat ketahanan nasional, terutama ketika tekanan ekonomi dan ketidakpastian global semakin meningkat.

Ia menilai dunia saat ini tengah menghadapi situasi yang kompleks, mulai dari ketidakpastian ekonomi, konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga menurunnya kohesi sosial. Dalam kondisi demikian, nilai pengorbanan dan semangat berbagi yang diajarkan dalam Idul Adha dinilai relevan untuk dijadikan fondasi agar bangsa tetap kokoh dan masyarakat tetap saling terhubung.

"Idul Adha mengajarkan bahwa pengorbanan dan kepedulian sosial adalah fondasi ketahanan bangsa. Negara yang kuat lahir dari masyarakat yang tidak membiarkan sesamanya berjalan sendiri ketika menghadapi tekanan ekonomi maupun perubahan global," ujar Bamsoet dalam keterangan tertulis, Rabu (27/5/2026).

"Semangat berbagi melalui kurban merupakan bentuk nyata bagaimana nilai agama memperkuat persatuan nasional," sambungnya.

Lebih lanjut, Bamsoet menjelaskan bahwa ancaman terhadap bangsa Indonesia telah mengalami pergeseran bentuk. Jika di masa lalu ancaman identik dengan agresi militer, kini tantangan justru datang dari pelemahan daya beli masyarakat, meningkatnya ketimpangan, tekanan ekonomi rumah tangga, fragmentasi sosial, hingga menurunnya tingkat kepercayaan antarsesama.

Data dari Global Report on Food Crises 2026 mencatat bahwa sebanyak 266 juta orang di 47 negara mengalami kerawanan pangan akut sepanjang tahun 2025. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan satu dekade sebelumnya. Lebih dari 80 persen kasus terjadi di wilayah yang mengalami krisis berkepanjangan, dengan konflik, tekanan ekonomi, dan gangguan iklim sebagai pemicu utama.

Dalam konteks tersebut, semangat kurban menjadi relevan karena menghadirkan mekanisme distribusi sosial yang berjalan secara sukarela dan berakar pada kesadaran moral. Bamsoet menekankan bahwa dunia saat ini sebenarnya tidak kekurangan sumber daya, melainkan sedang diuji kemampuannya dalam menjaga solidaritas.

"Dunia hari ini sesungguhnya tidak sedang kekurangan sumber daya. Dunia sedang diuji oleh kemampuan manusia menjaga solidaritas," kata Ketua DPR RI ke-20 itu.

"Ketika kepedulian melemah dan semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri, maka stabilitas sosial akan ikut melemah," sambungnya.

Di sisi lain, Bamsoet menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal sosial yang relatif kuat dibanding banyak negara lain. Budaya gotong royong, zakat, sedekah, serta tradisi kurban yang telah mengakar dinilai menjadi perekat sosial yang efektif. Tradisi ini tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga berdampak pada aspek sosial dan ekonomi. Bagi sebagian keluarga, distribusi daging kurban menjadi salah satu akses penting terhadap konsumsi protein. Sementara itu, momentum Idul Adha juga menggerakkan peternak lokal, pelaku distribusi, hingga ekonomi kerakyatan.

"Pesan terbesar Idul Adha di era modern saat ini adalah keberanian untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Pengorbanan dapat hadir dalam bentuk menahan konsumsi berlebihan, memperkuat ekonomi nasional, membantu kelompok rentan, menjaga persatuan, serta memperbesar ruang kepedulian sosial," pungkasnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar