JAKARTA – Di hari pertama tahun 2026, sebuah pernyataan keras mengguncang ruang publik. Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Hukum secara resmi menetapkan status “Indonesia Darurat Hukum”. Deklarasi itu disampaikan dalam sebuah konferensi pers, bertepatan dengan momen pergantian tahun. Pemicunya jelas: pemberlakuan KUHP dan KUHAP baru yang dijadwalkan mulai berlaku hari ini, 2 Januari 2026.
Suasana di lokasi terasa muram. Para tokoh hukum, sejarawan, dan aktivis HAM yang hadir sepakat. Regulasi baru ini bukan cuma soal ketidaksiapan. Lebih dari itu, mereka menilainya sebagai pameran otoritarianisme yang mengancam nyawa demokrasi dan hak asasi manusia.
Prosedur yang Kacau dan Ancaman di Baliknya
Muhamad Isnur dari YLBHI tak ragu menyebut situasi saat ini “mengerikan”. Ia menyoroti proses legislasi yang menurutnya cacat, manipulatif, dan terburu-buru. Yang paling mengkhawatirkan adalah waktu pemberlakuannya.
“Kami baru terima dokumen resminya tanggal 30 Desember. Besoknya sudah harus berlaku. Ini kacau,” ujar Isnur dengan nada tinggi.
“Negara seperti membiarkan kekacauan terjadi. Sosialisasi nol, aturan turunan belum jelas. Sangat membahayakan.”
Isnur juga memperingatkan bahaya lain. Tanpa pengawasan ketat terhadap aparat, UU baru ini berpotensi memicu lonjakan kekerasan, penyiksaan, bahkan pembunuhan di luar proses hukum. Ia mendesak Presiden segera terbitkan Perpu untuk menunda pemberlakuan.
Benteng yang Runtuh
Di sisi lain, mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman punya pandangan lebih tajam. Baginya, ini bukan sekadar soal inkompetensi teknis. Ini soal watak.
“KUHAP itu benteng terakhir warga negara. Sekarang bentengnya runtuh,” tegas Marzuki.
“Kita mungkin tidak lagi cuma darurat. Bisa jadi ini awal dari malapetaka hukum.”
Ia menyerukan masyarakat bersiap untuk judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Undang-undang ini, katanya, sudah bertentangan dengan jiwa UUD 1945.
Artikel Terkait
Sunyi yang Berbicara: Ketika Ulama Minang Menjinakkan Euforia Tahun Baru
Puncak Macet Parah, Polisi Terapkan Sistem Satu Arah
600 Hunian Darurat Tuntas di Aceh Tamiang, BRI dan BUMN Pacu Pembangunan
Pemilik Warung Steak Kalibata Dipanggil Polda, Kerugian Hampir Rp 100 Juta