Saudi Bom Kiriman Senjata, UEA Tarik Pasukan: Koalisi Arab di Yaman Retak

- Kamis, 01 Januari 2026 | 08:48 WIB
Saudi Bom Kiriman Senjata, UEA Tarik Pasukan: Koalisi Arab di Yaman Retak

Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di Yaman belakangan ini makin terasa panas. Pusat gesekannya ada di dua provinsi: Hadramout dan Al-Mahrah. Inti masalahnya, Saudi merasa gerah dengan manuver UEA yang mendorong pasukan Dewan Transisi Selatan (STC) untuk melancarkan operasi militer di wilayah selatan Yaman tepatnya di perbatasan mereka. Bagi Riyadh, langkah seperti ini bukan main-main. Mereka menilainya sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional, sekaligus berpotensi menggoyang stabilitas Yaman dan kawasan secara keseluruhan.

Belum lagi soal pergerakan kapal yang diam-diam membawa senjata dan kendaraan lapis baja. Kapal itu berlayar dari Pelabuhan Al-Fujairah di UEA menuju Pelabuhan Al-Mukalla di Hadramout. Yang jadi soal, pergerakan ini disebut dilakukan tanpa izin dari Komando Gabungan Pasukan Koalisi yang sebenarnya dipimpin oleh Arab Saudi. Hal ini tentu menambah runyam hubungan kedua sekutu itu.

Koalisi yang dibentuk pada 2015 ini memang awalnya solid, beranggotakan Saudi, UEA, Bahrain, Kuwait, dan Mesir. Namun seiring waktu, partisipasi aktif anggotanya naik-turun. Satu hal yang tetap: Arab Saudi memegang kendali utama.

Menurut pihak Saudi, langkah-langkah yang diambil UEA di Yaman dinilai sangat berbahaya. Tidak sejalan dengan prinsip awal koalisi untuk memulihkan legitimasi di Yaman, dan justru menjauhkan tujuan bersama menciptakan keamanan di negara yang sudah porak-poranda itu.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Saudi dengan tegas menyebut bahwa ancaman terhadap keamanan nasionalnya adalah "garis merah". Mereka tak akan ragu mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk menetralisir ancaman tersebut.

Meski bersikap keras, Saudi juga menegaskan kembali komitmennya pada keamanan dan kedaulatan Yaman. Dukungan penuh tetap diberikan kepada Dewan Kepemimpinan Presiden dan pemerintah yang sah di sana.

Soal isu Yaman Selatan, Saudi punya pandangan sendiri. Mereka melihatnya sebagai persoalan kompleks yang punya akar historis dan sosial. Satu-satunya jalan keluar, kata mereka, adalah melalui dialog politik yang menyeluruh dan melibatkan semua pihak, termasuk tentu saja Dewan Transisi Selatan.

Pemboman Kiriman Senjata oleh Saudi

Ketegangan itu akhirnya memuncak jadi aksi nyata. Saudi melancarkan serangan bom terhadap kiriman senjata dari UEA yang tertahan di Pelabuhan Mukalla. Kiriman itu dicurigai kuat akan digunakan oleh pasukan separatis.

Menurut laporan Associated Press, pemboman ini terjadi setelah berhari-hari ketegangan memanas, menyusul gerak maju pasukan separatis STC yang didukung oleh UEA.

Menariknya, meski dapat peringatan keras dari Saudi, STC dan sekutunya justru mengeluarkan pernyataan yang mendukung kehadiran UEA. Bahkan, di saat yang sama, kelompok lain yang bersekutu dengan Saudi malah mendesak pasukan UEA untuk angkat kaki dari Yaman dalam waktu 24 jam.

Reaksi UEA: Tarik Pasukan

Tak lama setelah insiden pengeboman, giliran UEA yang bereaksi. Kementerian Pertahanannya mengumumkan akan menarik sisa personel mereka yang masih ada di Yaman.

Menurut keterangan resmi, pasukan yang masih berada di Yaman saat ini adalah personel khusus yang bertugas dalam misi kontra-terorisme, dan mereka berkoordinasi dengan mitra internasional.

"Mengingat perkembangan terkini dan potensi implikasinya terhadap keselamatan dan efektivitas misi kontra-terorisme, Kementerian Pertahanan mengumumkan penghentian sementara personel kontra-terorisme yang tersisa di Yaman atas kemauan sendiri, dengan cara yang menjamin keselamatan personelnya dan berkoordinasi dengan mitra terkait,"

Demikian pernyataan Kementerian Pertahanan UEA yang dikutip dari akun resmi mereka di platform X, pada Rabu (31/12).

Dalam keterangan panjang itu, UEA juga menegaskan bahwa sejak 2015 mereka telah menjadi bagian dari Koalisi Arab untuk mendukung legitimasi di Yaman. Mereka klaim telah berkorban besar untuk mengejar keamanan dan stabilitas rakyat Yaman, serta mendukung upaya internasional memerangi terorisme.

Menariknya, UEA menyebut bahwa pasukan militernya yang reguler sebenarnya sudah ditarik dari Yaman sejak 2019 usai menyelesaikan misi resmi. Yang tersisa hanyalah personel khusus untuk kontra-terorisme. Nah, kini mereka pun akan ditarik juga.

"Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa langkah ini diambil dalam konteks penilaian komprehensif terhadap kebutuhan fase saat ini, dan sejalan dengan komitmen Uni Emirat Arab serta perannya dalam mendukung keamanan dan stabilitas di kawasan tersebut,"

Begitu penegasan akhir dari Kemhan UEA.

Bagaimana Respons Indonesia?

Lalu, bagaimana sikap Indonesia? Kementerian Luar Negeri RI memastikan terus memantau dengan cermat situasi konflik yang bergejolak di Yaman, terutama soal keamanan di Hadramout dan Al-Mahra.

Kepentingan Indonesia di Hadramout cukup signifikan. Wilayah terbesar di Yaman yang kaya minyak ini, khususnya Kota Tarim, adalah pusat pendidikan agama bagi ribuan pelajar asal Indonesia yang masih menimba ilmu di sana. Stabilitas di sana adalah hal yang krusial.

"Indonesia terus mengikuti dengan seksama perkembangan terkini di Republik Yaman dan mengapresiasi upaya lanjutan para pihak terkait untuk menjaga stabilitas dan keamanan, khususnya di wilayah Hadramout dan Al-Mahra,"

Demikian cuitan resmi Kemlu RI di akun X mereka pada Kamis (1/1).

Intinya, Indonesia mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan-tindakan sepihak yang bisa memicu keadaan jadi makin runyam.

"Indonesia menegaskan kembali seruannya kepada semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan sepihak yang dapat berdampak pada kondisi keamanan,"

Pesan itu disampaikan dengan jelas. Indonesia, seperti biasa, tetap mendorong penyelesaian konflik melalui jalan damai.

"Indonesia kembali menekankan pentingnya penyelesaian damai melalui dialog politik yang inklusif dan komprehensif di bawah koordinasi PBB, dengan menghormati pemerintahan Yaman yang sah serta integritas teritorialnya,"

Begitulah posisi Jakarta. Mengawasi, mengingatkan, dan mendorong dialog. Situasinya memang rumit, tapi harapan untuk perdamaian tak boleh padam.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar