Dari Markas Besar PBB Sekjen PBB Antonio Guterres tak lagi bisa diam. Ia secara terbuka mendesak Amerika Serikat dan Israel untuk segera menghentikan operasi militer mereka terhadap Iran. Seruan keras itu dilontarkannya Kamis lalu, menandai dua bulan konflik yang menurutnya sudah terlalu jauh berlarut-larut.
“Pesan saya jelas,” tegas Guterres dalam pernyataan resminya.
“Kepada Amerika Serikat dan Israel, sudah saatnya menghentikan perang yang menyebabkan penderitaan manusia yang luar biasa dan dampak ekonomi yang menghancurkan. Kepada Iran, hentikan serangan terhadap tetangga.”
Dua bulan bukan waktu yang singkat. Guterres menyoroti bagaimana penderitaan warga sipil kian memuncak, infrastruktur hancur berantakan, dan tekanan ekonomi mulai menjalar ke mana-mana. Yang awalnya tampak seperti konflik regional, kini gelombang kejutnya terasa hingga ke pelosok dunia, mengancam stabilitas global yang sudah rapuh.
Di Ambang Jurang yang Lebih Dalam
Peringatan PBB kali ini terdengar lebih genting. Risiko konflik meluas menjadi perang regional skala penuh dinilai semakin nyata. Situasinya, menurut Guterres, sedang berada di titik kritis yang berbahaya.
“Dunia berada di ambang perang yang lebih luas,” katanya, suaranya berisi kekhawatiran. “Dampaknya akan sangat dramatis secara global.”
Di sisi lain, jalan keluar sebenarnya masih terbuka. Guterres bersikukuh bahwa satu-satunya solusi adalah kembali ke meja diplomasi, bukan terus mengandalkan konfrontasi senjata. Ia mendesak semua pihak untuk patuh pada hukum internasional dan Piagam PBB menghormati kedaulatan, melindungi warga sipil, dan menjaga keamanan fasilitas vital, termasuk yang bersifat nuklir. Kebebasan navigasi di jalur laut strategis, yang kini juga ikut terancam, tak boleh diabaikan.
Pilihan Akhir Ada di Tangan Para Pemimpin
Menutup pernyataannya, Guterres menyampaikan pesan yang terdengar seperti ultimatum sekaligus harapan terakhir. Perdamaian, katanya, tidak akan jatuh dari langit. Perdamaian adalah sebuah pilihan.
“Kita harus menemukan jalan damai. Konflik tidak berakhir dengan sendirinya,” ujarnya.
“Konflik berakhir ketika para pemimpin memilih dialog, bukan kehancuran.”
Seruan ini bergema di tengah desakan internasional yang kian kuat. Banyak yang khawatir, jika api di Timur Tengah ini tidak segera dipadamkan, yang terbakar nantinya bukan hanya wilayah itu, tapi seluruh dunia.
Artikel Terkait
Ledakan Petasan di Balon Udara Blitar Tewaskan Pemuda, Lukai Dua Anak
Perindo Sultra Kurban Lima Sapi untuk Warga Kurang Mampu di Kendari
Atta Halilintar Sebar 12 Ekor Sapi Kurban ke Sejumlah Daerah di Jawa Barat
Ria Ricis Buka Suara soal Operasi Hidung: Bukan demi Estetika, tapi karena Gangguan Pernapasan Akibat Tulang Bengkok