Dari Tenda Pengungsian ke Panel Surya: Kisah Seorang Mahasiswi Gaza yang Bertahan dengan Mengisi Daya Ponsel

- Sabtu, 27 Desember 2025 | 08:25 WIB
Dari Tenda Pengungsian ke Panel Surya: Kisah Seorang Mahasiswi Gaza yang Bertahan dengan Mengisi Daya Ponsel

Rintangannya banyak. Cuaca mendung, ponsel numpuk, ditambah tekanan ujian akhir. Setiap awan yang lewat dan tutupi matahari langsung matikan pasokan listrik, karena saya tak punya baterai besar untuk cadangan. Di saat-saat itu, air mata kerap menetes sendiri. Capek dan putus asa campur aduk.

Tapi usahanya lumayan. Setiap hari saya dapat sekitar 10 dolar. Cukup buat beli kuota internet dan hal-hal kecil yang dulu saya anggap sepele, seperti sebungkus keripik atau sekotak jus. Sering saya duduk memandangi deretan ponsel yang sedang ngecas, pikiran melayang: Ini seharusnya waktu saya berdiri di depan kelas sebagai asisten dosen.

Ujian akhir di bulan Oktober saya jalani dengan kondisi yang ironis. Saya dikelilingi ponsel-ponsel yang tak bisa diisi karena langit mendung, sementara air mata mengalir di pipi. Sebuah kontras yang pedih.

Saya cuma satu dari ratusan ribu pemuda Gaza yang menolak ditaklukkan. Bagi kami, pendidikan adalah bentuk perlawanan. Mungkin itu juga sebabnya mengapa pihak pendudukan berusaha keras menghancurkannya. Mereka ingin kami tenggelam dalam kegelapan: kebodohan, keputusasaan, dan pasrah.

Tapi kami tak semudah itu. Pemuda Gaza tetap tak terkalahkan. Kami kejar pendidikan lewat daring, meski internet sering mati. Kami cari cara untuk menopang keluarga; ada yang jualan makanan di pinggir jalan, ada yang ngasih les privat, atau buka usaha kecil-kecilan seperti saya. Banyak juga yang berjuang mengajukan beasiswa untuk bisa kuliah di luar negeri.

Semua ini buktinya: kami cinta hidup, cinta tanah air ini, dan bertekad untuk membangunnya kembali. Bukan sekadar pulih, tapi jadi lebih baik.

Saat ini, saya sedang mengajukan beasiswa untuk studi S2 di luar Gaza. Saya ingin keluar, belajar, dan nanti kembali bukan untuk mengisi daya ponsel, tapi untuk mengisi daya pikiran. Kalau diterima, usaha isi daya kecil ini akan saya serahkan ke adik laki-laki saya, Anas. Dia bercita-cita jadi jurnalis, untuk menceritakan kebenaran tentang Gaza dan orang-orangnya.

Dia dan saya, bersama teman-teman sebaya di sini, kami memilih untuk terus maju. Kami menolak untuk menyerah.

Penulis berasal dari Gaza dan merupakan lulusan sarjana Penerjemahan Bahasa Inggris.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar