Nama Yasika Aulia Ramadhani tiba-tiba mencuat ke permukaan. Di usia yang baru dua puluh tahun, gadis ini sudah mengelola puluhan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau yang resminya disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Tak heran, pengelolaan 41 unit dapur itu pun ramai diperbincangkan.
Sorotan publik makin tajam ketika diketahui Yasika adalah putri dari Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan, Yasir Machmud. Fakta ini membuat banyak orang mengernyit, bertanya-tanya tentang asal muasal modal bisnis berskala besar tersebut.
Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri sudah mengonfirmasi kepemilikan dapur-dapur itu. Semuanya berada di bawah naungan Yasika Group. Sebarannya cukup luas: 16 unit di Kota Makassar, 10 di Kabupaten Bone, 3 di Parepare, dan 2 di Kabupaten Gowa. Sisanya, kata mereka, masih dalam proses penyelesaian di beberapa titik lain.
Angkanya memang fantastis. Dari data yang beredar, membangun satu dapur MBG saja butuh dana sekitar Rp1,5 miliar. Kalau dikalikan 41 unit, nilai investasinya bisa menembus Rp61,5 miliar. Bayangkan!
Potensi pendapatannya juga luar biasa. Dengan asumsi tiap dapur melayani 3.000 siswa dan ada margin Rp2.000 per porsi, omzet harian dari seluruh dapur itu bisa mencapai Rp246 juta. Jumlah yang sangat besar untuk bisnis yang diklaim bersifat sosial.
Ketika ditanya soal ini, sang ayah, Yasir Machmud, memilih diam. Ia enggan berkomentar saat dikonfirmasi media pada Sabtu lalu.
Pihak BGN pun terkesa tutup mulut. Juru bicaranya, Dian Fatwa, hanya bilang persoalan ini sudah diklarifikasi pimpinan pusat sejak akhir November tahun lalu. Tak ada penjelasan lebih lanjut.
Namun begitu, Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, punya sikap berbeda. Ia menegaskan operasional ke-41 dapur milik Yasika tidak akan dihentikan, meski sempat menimbulkan polemik.
"Operasional harus tetap berjalan," ujarnya.
Alasannya, agar anak-anak penerima manfaat tidak sampai terganggu. Nanik menambahkan, evaluasi kinerja akan tetap dilakukan secara berkala ke depannya.
Lantas, kenapa latar belakang pemilik baru terungkap belakangan? Nanik punya penjelasan. Proses pendaftaran SPPG, katanya, dilakukan melalui berbagai yayasan. Hal itu membuat verifikasi latar belakang pemilik di awal menjadi sulit.
"Ke depan aturan akan kita tegaskan lebih ketat," janjinya. Tapi untuk saat ini, dapur yang sudah berjalan dengan baik akan tetap dipertahankan.
Di lapangan, aktivitas tampak berjalan seperti biasa. Seperti di Dapur MBG milik Yasika di Jalan Hertasning, Makassar. Beberapa mobil operasional terparkir rapi, siap mengantar ribuan paket makanan ke sekolah-sekolah yang sudah ditentukan setiap harinya.
Seorang pengelola dapur yang enggan namanya disebut mengaku, semua proses penyiapan dan pengiriman paket MBG berjalan lancar. Viralnya berita tentang kepemilikan 41 dapur itu, katanya, sama sekali tidak mengganggu operasional di lapangan.
Semua tetap berjalan. Pertanyaan publik pun masih menggantung.
Artikel Terkait
Ledakan Petasan di Balon Udara Blitar Tewaskan Pemuda, Lukai Dua Anak
Perindo Sultra Kurban Lima Sapi untuk Warga Kurang Mampu di Kendari
Atta Halilintar Sebar 12 Ekor Sapi Kurban ke Sejumlah Daerah di Jawa Barat
Ria Ricis Buka Suara soal Operasi Hidung: Bukan demi Estetika, tapi karena Gangguan Pernapasan Akibat Tulang Bengkok