PAM JAYA Raih Penghargaan, Target 100% Cakupan Air Bersih Dikejar dengan Keterbukaan

- Jumat, 19 Desember 2025 | 18:36 WIB
PAM JAYA Raih Penghargaan, Target 100% Cakupan Air Bersih Dikejar dengan Keterbukaan

Di Hotel Indonesia Kempinski, Kamis lalu, suasana cukup meriah. PAM JAYA, perusahaan air minum milik DKI, justru jadi salah satu sorotan. Mereka pulang membawa piala "Impactful Transparent & Targeted Public Information" dari kumparan Awards Impact Makers 2025. Penghargaan ini bukan datang tiba-tiba, tapi seperti puncak dari upaya mereka membuka diri ke publik.

Selama ini, komitmen mereka terhadap keterbukaan informasi memang gencar. Dan rupanya, hal itu diperhatikan. Bagi warga Jakarta, langkah semacam ini jelas penting. Bukan cuma soal membangun kepercayaan, tapi juga mendorong layanan yang lebih baik ke depannya.

Syahrul Hasan, Direktur Operasional PAM JAYA, terlihat sumringah menerima penghargaan itu.

"Penghargaan ini kami dedikasikan untuk warga Jakarta dan seluruh Pamanah atau karyawan PAM JAYA," ujarnya.

Menurut Syahrul, apresiasi dari kumparan ini sangat berarti. Ia menganggapnya sebagai buah dari kerja positif seluruh tim.

Namun begitu, dia tak mau berpuas diri. Justru, momen ini dijadikan cambuk. Target pemerintah provinsi cukup berat: cakupan layanan air minum harus mencapai 100 persen pada 2029. Nah, untuk mencapai angka itu, partisipasi masyarakat dinilai krusial. Setiap masukan dan kritik dari warga, bagi Syahrul, adalah "injeksi" semangat baru.

"Masukan dari masyarakat menjadi injeksi dan semangat baru bagi PAM JAYA untuk bekerja jauh lebih baik, agar target cakupan layanan 100 persen bisa tercapai," jelasnya.

Lantas, bagaimana caranya mengumpulkan masukan itu? Di sinilah peran media sosial mereka mainkan. Platform seperti Instagram, X, dan Facebook tidak sekadar jadi etalase promosi. Lebih dari itu, dijadikan ruang keterbukaan dimana segala aktivitas dan pekerjaan harian bisa dipantau langsung oleh masyarakat. Sekaligus, jadi saluran komunikasi dua arah yang cepat.

Inovasinya cukup konkret. Misalnya, program "satu jam troubleshoot" untuk merespon gangguan layanan. Coba ada kebocoran atau air mati, laporan warga lewat media sosial ditargetkan ditindaklanjuti dalam waktu satu jam. Program ini, kata Syahrul, sudah dapat apresiasi.

"Media sosial kami gunakan sebagai etalase keterbukaan, sekaligus ruang bagi warga Jakarta untuk memberikan masukan. Salah satunya melalui program satu jam troubleshoot cakupan layanan, yang alhamdulillah mendapat apresiasi dari berbagai pihak," ungkapnya.

Jadi, lewat strategi ini, PAM JAYA tak cuma mengalirkan air bersih secara fisik. Mereka juga berusaha menghadirkan aliran informasi yang jernih dan bisa diandalkan. Pendekatan semacam inilah yang akhirnya dihargai. Membangun kepercayaan itu susah, tetapi PAM JAYA menunjukkan komitmennya lewat tindakan nyata.

Penghargaan itu akhirnya menegaskan satu hal: sebagai Badan Usaha Milik Daerah, PAM JAYA bertekad untuk tetap transparan, responsif, dan selalu mendengarkan kebutuhan warga ibukota. Sebuah langkah yang patut diapresiasi di tengah tantangan layanan publik yang kerap kompleks.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar