Kritik terhadap Presiden: Hak Warga Negara, Kewajiban Moral, dan Pandangan Islam

- Selasa, 18 November 2025 | 06:00 WIB
Kritik terhadap Presiden: Hak Warga Negara, Kewajiban Moral, dan Pandangan Islam

Mengapa Kritik terhadap Presiden Adalah Bagian Penting dari Demokrasi dan Ajaran Islam

Banyak yang keliru menganggap kritik terhadap presiden sebagai serangan terhadap pemerintah atau ancaman stabilitas nasional. Padahal, dalam sistem demokrasi dan khazanah pemikiran Islam, kritik justru berperan sebagai mekanisme kontrol untuk mencegah penyalahgunaan wewenang dan menjaga akuntabilitas kekuasaan.

Pandangan Filsuf Barat tentang Hakikat Kekuasaan

Filsuf politik Inggris, Lord Acton, menyampaikan pernyataan terkenal: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Pernyataan ini bukan sekadar teori, tetapi pelajaran dari sejarah panjang peradaban manusia. Kekuasaan tanpa pengawasan publik hampir selalu berujung pada penyimpangan.

Dalam suratnya tahun 1887, Acton menegaskan bahwa bahkan pemimpin terbaik pun dapat tergelincir tanpa adanya kontrol masyarakat. Setiap pemegang kekuasaan, termasuk presiden, harus siap menerima kritik lebih ketat daripada warga biasa. Zona nyaman tanpa kritik akan mengurangi kepekaan moral dan membuka ruang korupsi.

Perspektif Islam tentang Kewajiban Mengkritik Penguasa

Tradisi pemikiran Islam sejalan dengan pandangan Acton. Ulama klasik dan modern menekankan bahwa pemimpin adalah manusia biasa yang rentan terhadap kesalahan dan kelalaian.

Pandangan Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali dalam Nashihat al-Muluk menulis bahwa kerusakan rakyat berawal dari kerusakan penguasa. Ulama dan masyarakat memiliki kewajiban menasihati pemimpin untuk mencegah penyimpangan yang merugikan negara.

Pemikiran Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah dalam Al-Siyasah al-Syar'iyyah menegaskan bahwa keadilan adalah fondasi negara, bukan identitas pemimpin. Kritik terhadap penguasa yang tidak adil merupakan kewajiban moral untuk menegakkan kemaslahatan bersama.

Teladan Al-Hasan al-Bashri

Al-Hasan al-Bashri, seorang tabi'in, dikenal karena keberaniannya menyampaikan surat pedas kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia menekankan bahwa pemimpin sejati adalah pelindung rakyat, bukan penguasa yang menindas.


Halaman:

Komentar