Juru Bicara Bencana Aceh yang Berani Bungkam Janji Kosong Jakarta

- Jumat, 19 Desember 2025 | 05:20 WIB
Juru Bicara Bencana Aceh yang Berani Bungkam Janji Kosong Jakarta

Murthalamuddin itu seorang PNS. Jabatannya Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh. Tapi belakangan ini, Gubernur Aceh, Mualem, menugaskannya jadi Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi.

Namun begitu, sepertinya dia agak lupa dengan status barunya. Ada satu hal yang dia alpakan: sebagai birokrat, seharusnya bicaranya aman, terkendali.

Sejak ditunjuk jadi jubir bencana, Murthala justru bicara blak-blakan. Saat muncul di depan publik, ia tidak seperti jubir pemerintah pada umumnya yang sibuk menghidangkan data statistik kerusakan. Padahal, data-data itu bisa diakses siapa saja lewat situs posko. Ia juga enggan menjual narasi klise soal "kerja cepat" atau "penanganan maksimal".

Yang terjadi malah sebaliknya.

Dia bicara terang-benderang. Bahkan, terlalu terang untuk ukuran birokrasi kita. Tak ada yang ditutup-tutupi. Ia mengakui dengan lugas ketidakberdayaan Pemerintah Aceh. Membenarkan bahwa hingga detik ini, warga di wilayah terisolasi masih bertaruh nyawa. Kegagalan tak dipoles jadi prestasi. Di ruang publik, dengan berani ia mendeklarasikan bahwa pemerintah bekerja lamban.

Dalam berbagai wawancara di televisi nasional, Murthala tidak pakai bahasa administrasi yang kaku. Ia bicara dengan emosi, dengan nada kemanusiaan.

Ia pernah mengklarifikasi pernyataan Menteri ESDM Bahlil soal listrik, menyebutnya sebagai kebohongan. Terus terang, ia mengingatkan Presiden bahwa Bahlil telah mendustainya.

Belum lama ini, ia juga mengonfrontasi pernyataan staf khusus Presiden yang mengklaim helikopter terbang 24 jam. Hentakannya singkat dan telak: "Jangan asal bacot!"

Ia membungkam stafsus itu dengan keras, menyatakan rakyat Aceh akan jadi mayat jika harus menunggu janji ratusan helikopter di tahun depan.

Murthala meminta Presiden untuk jernih menerima informasi. Dan yang mungkin lebih menyakitkan bagi pusat, ia tegas menyatakan bahwa titah Presiden yang katanya sudah turun sama sekali tidak terasa dampaknya di lapangan.

Semua ini disampaikannya tepat di depan hidung Jakarta. Seketika, ia membatalkan laporan-laporan "baik-baik saja" yang selama ini meninabobokan kekuasaan. Pasti ia sadar, harga kejujuran semacam ini mahal: bisa kehilangan jabatan, disingkirkan, atau jadi bulan-bulanan faksi-faksi jahat di dalam kekuasaan.

Di tengah bencana ini, Murthala tidak sedang berbicara sebagai juru bicara posko. Ia berdiri di sisi rakyat yang kehilangan rumah, akses, dan kepastian hidup. Suaranya adalah gema dari jeritan mereka yang terkurung air dan lumpur, terkatung antara hidup dan mati. Ia memilih menyampaikan apa yang benar-benar terjadi, tanpa hiasan, tanpa kosmetik kata-kata. Dalam situasi seperti ini, kejujuran bukanlah sikap heroik. Itu cuma bentuk paling sederhana dari keberpihakan pada kemanusiaan.

Orang-orang seperti ini, terlepas dari kekurangan atau pandangan politiknya, jika sudah tegak di jalan kemanusiaan, jangan dibiarkan berdiri sendirian.

Tabik!

(Miswar Ibrahim Njong)

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar