MAKASSAR Akhirnya, ada angin segar untuk PSM Makassar. Setelah sempat dicekam ketidakpastian, klub kebanggaan Sulawesi Selatan itu kini bisa lega. FIFA secara resmi mencabut sanksi larangan transfer yang membelenggu Juku Eja.
Pantauan terhadap situs resmi federasi sepak bola dunia itu, Senin malam (2/2/2026), menunjukkan nama PSM sudah tak ada lagi dalam daftar hitam. Kabar ini tentu saja melegakan. Manajemen kini bisa segera mendaftarkan dua pemain anyar yang sudah ditunggu-tunggu: Dusan Lagator dan Sheriddin Boboev.
Periode sulit itu benar-benar menguji kesabaran. Bagaimana tidak, sanksi itu muncul di saat yang tak tepat.
Sanksi Muncul Saat Perkenalan Pemain Baru
Ironisnya, masalah ini justru mencuat di hari yang seharusnya penuh sukacita. Saat PSM memperkenalkan striker anyarnya, Luka Cumic, malah datang kabar buruk dari Zurich. Di laman FIFA, tercatat PSM dikenai larangan transfer untuk tiga periode, efektif 29 Januari 2026.
Isunya sih, ya itu, soal tunggakan gaji pemain. Ini seperti deja vu bagi PSM. Luka lama seolah terbuka kembali, dan sanksi itu jadi pukulan telak di tengah upaya membenahi skuad.
Nah, yang banyak disebut-sebut sebagai biang kerok adalah kasus penyerang asal Liberia, Abu Kamara. Pemain itu belakangan menghilang begitu saja dari radar. Tak hadir latihan, apalagi main.
Status kontraknya sendiri masih gelap, tidak ada kejelasan resmi. Situasi ini makin menguatkan dugaan adanya persoalan internal soal pemenuhan hak pemain, yang ujung-ujungnya berimbas ke FIFA.
Pelatih Tomas Trucha pun mengaku belum paham betul detail kasusnya. "Saya belum tahu perkembangannya secara mendalam," katanya suatu waktu.
Masalah Bertumpuk: Performa Anjlok dan Cedera
Di luar urusan administrasi yang ruwet, performa di lapangan juga tak kunjung membaik. Hasil imbang tanpa gol melawan Semen Padang di Parepare, Senin lalu, cuma memperpanjang catatan suram.
Faktanya, PSM sudah tujuh laga beruntun tanpa merasakan kemenangan di Super League 2025/2026. Cuma dua poin yang mereka kumpulkan dari dua imbang, selebihnya adalah lima kekalahan. Sungguh situasi yang memprihatinkan.
Tomas Trucha tak menampik bahwa timnya sedang dalam proses evaluasi besar-besaran. Usai laga, ia terlihat serius.
“Kami melakukan banyak analisis dan statistik. Kalau Anda tanya analis kami, dia punya pekerjaan menumpuk dan hampir tak sempat tidur,” ujar Trucha.
Ia dengan jujur mengakui titik lemah timnya.
“Masalah utama ada di kualitas 20 meter terakhir. Penyelesaian akhir, umpan penentu, dan crossing semua masih kurang tajam,” paparnya.
Memang, selain persoalan teknis, ada faktor lain yang membebani. Jadwal yang dihadapi PSM terbilang berat. Mereka harus berhadapan dengan tim-tim papan atas seperti Persib, Madura United, dan Borneo FC dalam waktu berdekatan.
Belum lagi badai cedera. Savio dan Medina harus absen, sementara Gledson belum fit seratus persen. Pilihan Trucha di bangku cadangan jadi sangat terbatas.
“Banyak pemain yang tidak tersedia. Kami masih berusaha mendatangkan pemain baru untuk memperbaiki keadaan,” tuturnya.
Kini, dengan sanksi FIFA sudah tiada, setidaknya satu beban berat telah terlepas. Pendaftaran Lagator dan Boboev diharapkan jadi titik balik. PSM Makassar punya kesempatan baru untuk bangkit, bukan cuma di meja administrasi, tapi terutama di atas rumput hijau.
Artikel Terkait
David da Silva Cetak Rekor Top Skor Tertua Liga 1 di Usia 36 Tahun
Persaingan Tiga Klub Besar Memanas: Victor Dethan Dikabarkan Sepakat dengan Persija, Persebaya Buru Eksodus Pemain PSM
Persija vs Persib Berpotensi Pindah ke Stadion Segiri Samarinda karena Izin Venue di Jakarta Mandek
Persib Bandung Tampil dengan Kekuatan Penuh Hadapi Persija Usai Taklukkan PSIM 1-0