Di Balik Tumpukan Piala, Suara Anak yang Terkubur

- Kamis, 18 Desember 2025 | 07:06 WIB
Di Balik Tumpukan Piala, Suara Anak yang Terkubur

Di ruang keluarga kita, kata 'prestasi' kini lebih sering menggema ketimbang kata 'bahagia'. Diucapkan dengan bangga, tapi kadang juga penuh desakan. Ia jadi tolok ukur utama kesuksesan seorang anak, sekaligus cermin bagi orang tuanya.

Tapi coba kita lihat lebih dalam. Di balik tumpukan piala, rapor bernilai sempurna, dan unggahan media sosial yang gemilang, seringkali ada sesuatu yang hilang. Suara anak itu sendiri.

Mereka belajar untuk patuh, bukan untuk didengar. Berjuang meraih prestasi, tapi lupa memahami diri sendiri. Di sinilah semuanya jadi rumit. Prestasi mulai berkelindan dengan gengsi, dan anak-anaklah yang paling rentan kehilangan ruangnya.

Prestasi: Lebih Dari Sekadar Nilai

Faktanya, prestasi anak sudah lama jadi semacam mata uang sosial. Nilai bagus, juara kelas, atau diterima di sekolah favorit itu bukan lagi sekadar pencapaian pribadi. Itu adalah simbol status. Coba ingat obrolan antar orang tua. Pertanyaan seperti "Anaknya sekolah di mana?" atau "Dapat ranking berapa?" seringkali bukan sekadar basa-basi. Ada penilaian terselubung di dalamnya.

Media sosial, tentu saja, memperkeruh keadaan. Unggahan sertifikat dan foto wisuda seolah jadi barang pamer wajib. Tanpa disadari, banyak orang tua menjadikan pencapaian anak sebagai alat validasi. Akibatnya, anak tumbuh dalam tekanan. Kegagalan, yang seharusnya jadi bagian belajar, berubah jadi momok yang mengancam harga diri keluarga.

Padahal, berbagai penelitian psikologi sudah memperingatkan hal ini. Tekanan berlebihan pada prestasi eksternal justru menggerogoti motivasi dari dalam diri anak. Mereka berprestasi demi pujian, bukan karena rasa ingin tahu. Jangka panjangnya? Kita bisa menghasilkan generasi yang cerdas secara akademis, tapi rapuh secara emosional.

Gengsi yang Berkedok Niat Baik

Masalahnya, gengsi ini kerap datang dengan bungkus yang manis. Disamarkan sebagai niat baik. "Ini demi masa depanmu," atau "Percayalah pada Ibu." Kalimat-kalimat yang terdengar penuh kasih.

Namun begitu, bahaya mengintai ketika suara anak tak pernah benar-benar didengarkan.

Lihat saja kenyataannya. Banyak anak dipaksa masuk jurusan tertentu, ikut les sana-sini, atau menekuni bidang yang tak mereka sukai. Keputusan hidupnya diambil sepihak. Mereka hanya disuruh menurut. Dari sini, pelajaran yang terserap cuma satu: keinginanku tidak penting.

Data survei kesehatan mental remaja menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kasus kecemasan dan depresi pada anak sekolah meningkat signifikan. Tekanan akademik dan ekspektasi keluarga disebut sebagai pemicu utama.

Di Indonesia sendiri, laporan dari Kementerian Kesehatan dan berbagai lembaga peduli anak mengonfirmasi hal serupa. Masalah kesehatan mental remaja makin mengkhawatirkan, sayangnya masih sering dianggap sepele.

Suara yang Hilang, Meski Mulut Terbuka

Kehilangan suara bukan berarti mereka diam. Banyak anak tetap berprestasi, tetap tersenyum, tampak baik-baik saja dari luar. Tapi di dalam? Ada kelelahan yang mendalam, kebingungan, dan rasa hampa yang tak terucap. Mereka tak terbiasa mengenali perasaannya sendiri, apalagi mengungkapkannya.

Dampak jangka panjangnya jelas. Anak-anak ini bisa tumbuh jadi pribadi yang sulit mengambil keputusan, rendah kepercayaan diri, dan selalu bergantung pada penilaian orang lain. Mereka akan jadi dewasa yang terus bertanya, "Apakah ini sudah cukup membanggakan?"

Ironisnya, orang tua sering baru tersadar saat segalanya sudah terlambat ketika anak mulai memberontak, menarik diri, atau menunjukkan gejala gangguan yang serius. Saat itu, komunikasi seringnya sudah retak.


Halaman:

Komentar