Sekolah Juga Turut Andil
Jangan salah, beban ini bukan cuma di pundak orang tua. Sistem pendidikan kita ikut menyuburkan tekanan ini. Kurikulum yang begitu padat, fokus berlebihan pada nilai ujian, dan minimnya ruang untuk mengeksplorasi minat pribadi semua ini menyempitkan makna sukses menjadi sekadar angka di kertas.
Sekolah unggulan dan kelas akselerasi memang punya nilai plus. Tapi tanpa pendekatan yang manusiawi, semuanya justru jadi bumerang. Anak yang berbakat di bidang seni, olahraga, atau hal non-akademik lainnya sering merasa terpinggirkan.
Padahal, dunia nyata membutuhkan lebih dari sekadar nilai bagus. Empati, ketahanan mental, kemampuan bergaul, dan tahu siapa dirinya itu semua sama pentingnya.
Mendengar Bukan Berarti Menyerah Kendali
Ini yang sering dikhawatirkan orang tua. Mereka takut dianggap lepas kendali. Padahal, mendengarkan anak sama sekali bukan berarti membiarkan mereka berbuat semaunya.
Mendengar itu artinya membuka ruang dialog. Mengakui perasaan mereka. Melibatkan mereka dalam proses mengambil keputusan, meski keputusan akhir tetap ada di tangan kita sebagai orang dewasa.
Peran orang tua tetaplah sebagai pembimbing, bukan pengendali yang otoriter. Prestasi itu penting, iya. Tapi yang lebih penting adalah prosesnya: apakah anak merasa aman untuk gagal? Berani untuk mencoba? Dan yang utama, jujur pada dirinya sendiri?
Mendefinisikan Kembali Arti 'Sukses'
Mungkin sudah waktunya kita memaknai ulang kata 'prestasi'. Ia bukan cuma soal ranking atau piala yang berkilau. Prestasi juga adalah soal pertumbuhan. Seorang anak yang paham akan dirinya, bisa mengelola emosi, dan berani menyuarakan pikiran itu adalah prestasi yang sesungguhnya. Prestasi yang utuh.
Untuk mencapainya, perlu kerja sama. Keluarga, sekolah, dan bahkan media harus seiring sejalan. Mengapresiasi proses, bukan cuma hasil akhir. Menghargai keragaman bakat, bukan menyeragamkan mimpi.
Kesimpulan: Untuk Siapa Semua Ini?
Jadi, prestasi itu sendiri tidak salah. Ambisi orang tua juga wajar adanya. Persoalan muncul ketika prestasi dijadikan alat untuk pamer, dan anak kehilangan haknya untuk bersuara dalam perjalanan menuju 'sukses' ala orang dewasa.
Mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Untuk siapa semua usaha ini sebenarnya?
Masa depan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi ia melompat, tapi juga seberapa kuat ia berpijak pada jati dirinya. Sudah saatnya kita, sebagai orang dewasa, membuka ruang dialog yang lebih setara. Benar-benar mendengarkan mereka, bukan sekadar menyuruh.
Jika hari ini kita memilih untuk lebih banyak mendengar, bukan mustahil esok kita akan menyaksikan generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga utuh sebagai manusia.
Artikel Terkait
Bocah dengan Laptop Pecah Ditemukan Sendirian di Sleman
Dokumen Epstein Ungkap Transaksi Properti Trump dan Kaitan dengan Pengusaha Indonesia
Balong Cigugur Berduka: Ratusan Ikan Keramat Mati Mendadak
Red Notice Interpol Segera Terbit untuk Buronan Kasus Korupsi Chromebook