Aku paling tidak tega kalau sudah menyangkut anak-anak dan orang tua. Pasti langsung mewek. Soalnya, aku pernah mengalaminya sendiri: anakku kelaparan hampir 30 jam terjebak di tengah banjir. Rasanya sesak sekali, nyesek di dada.
Aku paham, para pekerja lapangan yang menyalurkan bantuan pasti sudah kelelahan. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi, kok bisa sedemikian lambatnya?
Menurut sejumlah saksi, ada warga di daerah pegunungan yang terpaksa turun jalan kaki. Mereka menyusuri jalan penuh lumpur hanya untuk menjual sayuran. Hasilnya dibelikan beras untuk anak dan istri yang menunggu di rumah.
Coba bayangkan. Mereka berjalan puluhan kilometer. Aku pernah ke sana, naik motor saja badan rasanya pegal semua karena jauh dan jalannya terjal. Apalagi mereka yang berjalan kaki.🥲
Belum lagi kabar dari Aceh Tamiang. Kondisi di sana sudah benar-benar kritis, warga kelaparan. Ayolah, pemer!ntah. Masak tega sekali membiarkan rakyatnya menderita begini.🥺
Artikel Terkait
Mentan Amran Gelar Ramadan Tanpa Sekat, Bagikan Bantuan ke 500 Penerima
DPR Dorong Sekolah Siapkan Guru Hadapi Pembatasan Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Kapolri Buka Posko Pengaduan Khusus Kasus Penyiraman Aktivis KontraS
Cak Imin Prihatin, Bupati Cilacap Tersangka KPK Diduga Targetkan Dana Rp750 Juta