Jakarta – Sabtu sore itu, udara di Masjid Baitut Tholibin terasa berbeda. Ada kehangatan yang menguar, lebih dari sekadar menunggu adzan Maghrib. Lebih dari 1.600 orang memadati lingkungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah itu, meramaikan acara bertajuk “Ramadan Ceria: Berbuka Bersama 1.000 Difabel”.
Acara ini jelas bukan sekadar buka puasa biasa. Di balik kemeriahannya, terselip pesan kuat tentang komitmen pemerintah di bidang pendidikan inklusif. Momentum Ramadan dimanfaatkan untuk menegaskan bahwa setiap anak Indonesia, tanpa terkecuali, berhak atas layanan pendidikan yang layak.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, hadir menyampaikan tekadnya. Dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (15/3/2026), ia menegaskan hal itu.
“Semua anak Indonesia, apa pun kondisinya dan di mana pun mereka berada, berhak memperoleh layanan pendidikan. Karena itu kami berkomitmen memperkuat pendidikan inklusif agar anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama dengan anak lainnya,” kata Mu’ti.
Menurutnya, ini adalah kewajiban negara. Namun begitu, tantangannya tidak kecil. Bukan cuma soal fasilitas, tapi juga kesiapan guru dan lingkungan sekolah yang benar-benar menerima.
Untuk itulah, sejumlah langkah konkret disiapkan di tahun 2026. Pemerintah akan mendorong lebih keras penerapan sistem inklusif di sekolah reguler. Di sisi lain, penambahan Sekolah Luar Biasa di daerah yang masih kekurangan juga menjadi prioritas.
Yang tak kalah penting adalah pelatihan guru pendamping. “Tahun 2026 kami akan mulai melatih lebih banyak guru pendamping agar sekolah dapat memberikan layanan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak berkebutuhan khusus,” lanjut Mu’ti.
Ia menambahkan, upaya ini punya tujuan yang lebih luas: membangun masyarakat yang terbuka dan menghargai keberagaman. “Kita ingin membangun masyarakat yang tidak memberi sekat,” jelasnya. Potensi setiap anak, katanya, bisa berkembang asal diberi kesempatan yang sama.
Sementara itu, di tempat yang sama, suasana semakin meriah menjelang buka puasa. Panggung menjadi saksi beragam penampilan mengagumkan dari peserta difabel. Ada alunan hadroh, lantunan ayat suci Al-Qur’an, hingga mengaji dengan bahasa isyarat. Tak ketinggalan, dongeng dan pembacaan puisi turut memeriahkan. Semua itu adalah bukti nyata potensi dan kreativitas yang mereka miliki.
Acara itu juga jadi momen peluncuran beberapa program. Salah satunya komunitas PijatMu, inisiatif dari Muhammadiyah yang menghimpun terapis pijat tunanetra. Tujuannya jelas: memperkuat jaringan dan kemandirian ekonomi.
Ada juga program mudik gratis bagi penyandang disabilitas. Layanan transportasi ini disediakan khusus untuk mereka yang ingin pulang kampung saat Lebaran nanti.
Sebagai bentuk perhatian, Kemendikdasmen menyalurkan berbagai bantuan langsung. Mulai dari paket sembako, perlengkapan ibadah, baju koko untuk anak-anak, sampai Al-Qur’an Braille. Bantuan-bantuan praktis ini diharapkan bisa mendukung aktivitas mereka selama Ramadan.
Pada akhirnya, acara seperti ini menunjukkan satu hal. Pendidikan inklusif bukan cuma wacana di atas kertas kebijakan. Ia perlu diwujudkan dalam aksi nyata yang mempertemukan semua pihak dalam satu ruang kebersamaan. Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memupuk empati, sekaligus mengingatkan bahwa komitmen ini harus terus bergulir.
Artikel Terkait
Prabowo Berkelakar soal Pingsan hingga Stres saat Groundbreaking Proyek Hilirisasi di Cilacap
Atletico Madrid vs Arsenal Imbang 1-1 di Leg Pertama Semifinal Liga Champions
KPK Buka Suara soal Video Viral Tahanan Baju Oranye di Bandara: Prosedur Pemindahan untuk Sidang
Sengketa Internal FSPMI Berujung ke PN Jakarta Timur, Mediasi Dinilai Terhambat karena Tergugat Tak Kooperatif