Iran dikabarkan sedang mempertimbangkan sebuah kebijakan baru terkait lalu lintas minyak di Selat Hormuz. Intinya, mereka bakal mengizinkan kapal-kapal tanker untuk melintas. Tapi, ada syarat khusus yang ditawarkan: pembayaran harus pakai yuan, mata uang China. Ini jadi sinyal menarik di tengah ketegangan yang ada.
Latar belakangnya, ancaman dari AS belum lama ini. Presiden Donald Trump sempat mengeluarkan peringatan keras. Ia mengancam akan menyerang infrastruktur minyak Iran di Pulau Kharg jika Teheran terus saja memblokade kapal-kapal yang hendak lewat di selat strategis itu. Ancaman itu jelas menggantung, menambah panas situasi.
Nah, kini muncul respons dari Iran. Menurut kabar yang beredar dari seorang pejabat senior, mereka berencana mengizinkan sejumlah kapal tanker minyak untuk melintas. Syaratnya, seperti sudah disebut, transaksi minyaknya harus diperdagangkan dalam yuan. Rencana ini disebut-sebut sebagai bagian dari skema baru Iran untuk mengatur arus kapal tanker di selat itu.
Jadi, skemanya seperti apa? Tampaknya Iran ingin menguji air. Mereka mungkin akan membuka keran sedikit, membiarkan beberapa kapal lewat, dengan mata uang tertentu sebagai kuncinya. Langkah ini bisa dilihat sebagai manuver diplomatik sekaligus ekonomi di tengah tekanan yang mereka hadapi.
Memang, Selat Hormuz bukan jalur biasa. Ini adalah urat nadi minyak dunia. Setiap gebrakan kebijakan di sana pasti langsung menarik perhatian global. Dan kali ini, yuan China yang jadi sorotan.
Artikel Terkait
Sabar/Reza Kalah dari Wakil Tiongkok di Final Australian Open 2026
BPJPH Gelar Sosialisasi Wajib Halal Serentak di 2.183 Titik, Raih Rekor MURI
Stok Beras Pemerintah Capai 5,3 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah Indonesia
Dua Drone Hizbullah Hantam Perbatasan Israel Utara, Dua Menteri Sayap Kanan Serukan Serangan Balasan ke Beirut