Di ruang kelas, tantangan yang dihadapi siswa dengan cerebral palsy (CP) seringkali nyata dan kompleks. Keterbatasan motorik mereka bisa menghambat proses belajar. Nah, untuk menjawab persoalan ini, tim Pengabdian Masyarakat (Abmas) dari Departemen Teknik Biomedik ITS punya inisiatif menarik. Mereka memberikan pelatihan khusus bagi para guru, agar bisa menggunakan alat terapi motorik untuk menangani anak-anak CP.
Dr. Achmad Arifin, atau yang akrab disapa Arifin, ketua tim Abmas, menjelaskan inti masalahnya. Menurutnya, anak-anak dengan CP butuh stimulasi rutin. Tujuannya sederhana: mengurangi kekakuan otot dan mempermudah gerakan sehari-hari.
Jadi, apa yang diajarkan dalam pelatihan itu? Tim ITS memperkenalkan sebuah alat bernama Combo Electrotherapy Device R-C101F. Alat ini punya dua fungsi utama. Pertama, teknik TENS yang bekerja menstimulasi saraf sensorik, membantu mengatur sinyal yang dikirim ke otak. Di sisi lain, ada juga mode NMES yang fokus pada saraf motorik, untuk melatih kontraksi otot dengan kontrol lebih baik.
Tapi, tentu saja, alat canggih saja tidak cukup. Arifin menekankan bahwa kunci keberhasilannya ada pada penggunaannya. Mulai dari cara menempatkan elektroda di tubuh siswa, sampai memilih frekuensi yang pas. Pemahaman mendalam soal kedua metode ini sangat krusial agar terapi berjalan aman dan benar-benar efektif.
Pelatihan ini bukanlah program yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara ITS dan Yayasan Pendidikan Autis Mutiara Hati Sidoarjo. Pengalaman dan data yang dikumpulkan dari lapangan nantinya akan dipakai untuk menyempurnakan desain alat terapi, khususnya Functional Electrical Stimulation (FES), agar lebih presisi dan mudah dipakai oleh guru.
Artikel Terkait
AS dan Iran Siap Berunding di Istanbul di Tengah Ketegangan yang Meningkat
Bencana 2026: Alarm Terakhir untuk Pendidikan Ekologi
Di Balik Trauma Child Grooming: Ancaman Bunuh Diri dan Diamnya Orang Tua
Investasi TaniHub Berujung Dakwaan: Kerugian Negara Capai Ratusan Miliar