ITS Bekali Guru dengan Alat Terapi Motorik untuk Siswa Cerebral Palsy

- Selasa, 09 Desember 2025 | 11:18 WIB
ITS Bekali Guru dengan Alat Terapi Motorik untuk Siswa Cerebral Palsy

Di ruang kelas, tantangan yang dihadapi siswa dengan cerebral palsy (CP) seringkali nyata dan kompleks. Keterbatasan motorik mereka bisa menghambat proses belajar. Nah, untuk menjawab persoalan ini, tim Pengabdian Masyarakat (Abmas) dari Departemen Teknik Biomedik ITS punya inisiatif menarik. Mereka memberikan pelatihan khusus bagi para guru, agar bisa menggunakan alat terapi motorik untuk menangani anak-anak CP.

Dr. Achmad Arifin, atau yang akrab disapa Arifin, ketua tim Abmas, menjelaskan inti masalahnya. Menurutnya, anak-anak dengan CP butuh stimulasi rutin. Tujuannya sederhana: mengurangi kekakuan otot dan mempermudah gerakan sehari-hari.

“Latihan sederhana di sekolah atau rumah sebenarnya bisa berdampak besar,” ujarnya. “Makanya, kami rasa penting banget membekali para pendamping di sekolah dengan pelatihan yang tepat.”

Jadi, apa yang diajarkan dalam pelatihan itu? Tim ITS memperkenalkan sebuah alat bernama Combo Electrotherapy Device R-C101F. Alat ini punya dua fungsi utama. Pertama, teknik TENS yang bekerja menstimulasi saraf sensorik, membantu mengatur sinyal yang dikirim ke otak. Di sisi lain, ada juga mode NMES yang fokus pada saraf motorik, untuk melatih kontraksi otot dengan kontrol lebih baik.

Tapi, tentu saja, alat canggih saja tidak cukup. Arifin menekankan bahwa kunci keberhasilannya ada pada penggunaannya. Mulai dari cara menempatkan elektroda di tubuh siswa, sampai memilih frekuensi yang pas. Pemahaman mendalam soal kedua metode ini sangat krusial agar terapi berjalan aman dan benar-benar efektif.

Pelatihan ini bukanlah program yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara ITS dan Yayasan Pendidikan Autis Mutiara Hati Sidoarjo. Pengalaman dan data yang dikumpulkan dari lapangan nantinya akan dipakai untuk menyempurnakan desain alat terapi, khususnya Functional Electrical Stimulation (FES), agar lebih presisi dan mudah dipakai oleh guru.

Respon dari peserta pelatihan sendiri cukup positif. Salah satunya, Achmad Mu’arif, seorang guru yang ikut serta.

“Pelatihannya sangat praktis,” katanya. “Sekarang kami merasa lebih siap. Bisa mengoperasikan alatnya, dan yang penting, memahami respons yang ditunjukkan siswa selama terapi. Jadi, kami bisa menyesuaikan treatment secara bertahap.”

Tak cuma soal alat, para guru juga dibekali lembar pemantauan harian. Lembar sederhana ini berguna untuk mencatat detail setiap sesi, mulai dari durasi hingga tingkat kenyamanan anak. Dengan pencatatan rutin, terapi bisa lebih dipersonalisasi sesuai kebutuhan tiap siswa.

Kepala Yayasan Mutiara Hati, Drs. Handoko, turut menyambut baik inisiatif ini. Ia mengapresiasi pendampingan yang diberikan ITS.

“Kolaborasi seperti ini manfaatnya besar, baik untuk siswa maupun guru kami,” ujarnya. “Harapannya, kerja sama ini bisa terus berkembang.”

Secara lebih luas, kegiatan semacam ini sejalan dengan upaya global mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs. Kontribusi ITS ini menyentuh poin ketiga tentang kehidupan sehat, dan juga poin kesepuluh, yaitu upaya mengurangi kesenjangan di masyarakat. Sebuah langkah kecil yang bermakna, dimulai dari ruang kelas.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar