Respon dari peserta pelatihan sendiri cukup positif. Salah satunya, Achmad Mu’arif, seorang guru yang ikut serta.
Tak cuma soal alat, para guru juga dibekali lembar pemantauan harian. Lembar sederhana ini berguna untuk mencatat detail setiap sesi, mulai dari durasi hingga tingkat kenyamanan anak. Dengan pencatatan rutin, terapi bisa lebih dipersonalisasi sesuai kebutuhan tiap siswa.
Kepala Yayasan Mutiara Hati, Drs. Handoko, turut menyambut baik inisiatif ini. Ia mengapresiasi pendampingan yang diberikan ITS.
Secara lebih luas, kegiatan semacam ini sejalan dengan upaya global mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs. Kontribusi ITS ini menyentuh poin ketiga tentang kehidupan sehat, dan juga poin kesepuluh, yaitu upaya mengurangi kesenjangan di masyarakat. Sebuah langkah kecil yang bermakna, dimulai dari ruang kelas.
Artikel Terkait
Di Balik Senyum Kampus: Saat Kekuatan Lahir dari Keberanian untuk Lelah
Rindu yang Tertinggal di Stasiun Bandung
Tembak-Menembak di Yahukimo, Sopir Pikap Nyaris Jadi Sasaran
AS dan Iran Siap Berunding di Istanbul di Tengah Ketegangan yang Meningkat