Di Balik Senyum Kampus: Saat Kekuatan Lahir dari Keberanian untuk Lelah

- Selasa, 03 Februari 2026 | 03:06 WIB
Di Balik Senyum Kampus: Saat Kekuatan Lahir dari Keberanian untuk Lelah

Pernah nggak sih, bangun pagi terasa kayak beban? Mata masih berat, tapi daftar tugas kuliah udah nungguin. Padahal semalam begadang buat ngerjain laporan atau belajar buat ujian. Rasanya semua berjalan di luar kendali kita.

Dan itu baru urusan akademik. Belum lagi kalau jurusan yang kita ambil ternyata nggak cocok sama minat. Atau pertemanan di kampus yang kompleks, penuh drama. Semuanya serba melelahkan. Di titik seperti inilah, kita sering berada di persimpangan: antara menyerah atau memaksakan diri untuk bertahan.

Hidup pun kadang terasa penuh kepura-puraan. Coba ingat-ingat, saat harus tersenyum manis presentasi di depan kelas, padahal dalam hati penginnya diam aja. Setiap pagi kita bangun dengan napas berat, lalu menyunggingkan senyum. Rasanya seperti memainkan peran dalam sandiwara yang nggak ada habisnya. Lama-lama, jati diri sendiri jadi kabur. Kita bertanya, ini masih kita atau cuma topeng?

Di sisi lain, kuat itu sebenarnya bukan aksi heroik yang datang tiba-tiba. Lebih tepatnya, kuat adalah sebuah pilihan. Memang terdengar dipaksakan, tapi nyatanya begitu. Awalnya kan cuma keterpaksaan, karena situasi memaksa. Tapi perlahan, itu berubah jadi kebiasaan.

Kuat itu mengajarkan kita untuk menahan lelah yang datang bertubi-tubi. Mengajak kita berani untuk nggak cepat nyerah. Dan yang paling sulit: berdamai dengan takdir yang kadang bikin kita merasa kalah.

Contoh sederhana? Saat harus menyelesaikan tiga tugas sekaligus sambil nyiapin kuis besok, padahal tubuh cuma pengin rebahan seharian. Kita tetap melakukannya. Kenapa? Karena sadar, mengeluh nggak akan mengubah apa-apa. Di sini kita belajar: kita nggak hebat karena dari sananya kuat. Kita jadi hebat justru karena berani memilih untuk menjadi kuat.

Tapi, jangan salah. Jadi kuat itu ada harganya, dan bayarannya mahal. Lelah yang menumpuk bisa bikin kita limbung. Bayangkan pulang ke kos selepas seharian kuliah, ngerjakan tugas di perpustakaan, terus masih harus rapat organisasi. Badan pulang, tapi pikiran dan perasaan tertinggal di suatu tempat. Energi habis, pikiran lelah. Rasanya hancur berkali-kali sudah jadi menu sehari-hari.


Halaman:

Komentar