Hidup yang dulu terasa penuh warna, tiba-tiba jadi datar dan hambar. Namun begitu, anehnya, justru dari rasa sakit dan kehancuran itulah kekuatan baru perlahan tumbuh. Seperti tanah yang harus dibajak dulu sebelum ditanami benih.
Lalu, di suatu titik, kita pasti bertanya-tanya: apa sih arti kuat yang sebenernya? Sampai kapan kita harus pura-pura baik-baik saja? Sampai kapan harus bertahan di jalan yang ruwet ini, sementara kebahagiaan terasa semu dan jauh?
Pernah lihat teman sekelas yang kayaknya lancar aja ngerjain semuanya? Sementara kita, frustasi sendiri di kamar, mencoba memahami materi yang nggak kunjung masuk. Di saat kayak gini, keinginan untuk berhenti sejenak itu wajar banget. Itu bukan tanda lemah. Itu tanda kita pengin jujur sama diri sendiri.
Menjadi rapuh sebentar nggak apa-apa. Itu bukti kita masih manusia. Menangis juga boleh. Itu tanda hati kita masih bisa merasakan sesuatu.
Pada akhirnya, rasa kuat nggak melulu soal bangkit sendiri dan terus melangkah. Kuat juga berarti punya keberanian untuk mengakui bahwa kita lelah dan butuh mengalah. Ada waktunya kita perlu menata ulang langkah, menarik napas panjang, sebelum memutuskan arah berikutnya.
Hidup ini bukan kompetisi tentang siapa yang terlihat paling hebat atau paling tahan banting. Bukan. Hidup ini lebih tentang siapa yang bisa bertahan tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.
Seperti saat kita memutuskan untuk duduk sebentar di pinggir lapangan, menatap langit sore, sebelum kembali ke buku dan laptop. Bertahan itu bukan menyangkal bahwa kita lelah. Tapi memahami kapan harus mendorong diri, dan kapan harus memberi diri waktu untuk istirahat. Agar perjalanan yang kita tempuh tetap punya makna, bukan sekadar lari di tempat.
Artikel Terkait
Jokowi Gencar Genjot PSI, Ambisi Tiga Periode Masih Menyala?
Dosen UI Soroti Bahaya Indonesia Jadi Stempel Zionis di Board of Peace
Menulis Ilmiah di Kampus: Antara Momok dan Hilangnya Tradisi Riset
Dialog Terbuka dan Ujian Nyata: Akankah Kedaulatan Kembali ke Rakyat?