Ambisi Tiga Periode Jokowi: Sebuah Pengakuan di Rakernas PSI
Oleh: Saiful Huda Ems
Rakernas Partai Solidaritas Indonesia di Makassar, Sabtu lalu, menyimpan satu momen yang cukup mengejutkan. Di hadapan para kader, Joko Widodo dengan gamblang berjanji akan bekerja mati-matian. Tujuannya? Membesarkan dan memenangkan PSI. Tak tanggung-tanggung, mantan presiden itu bahkan menyatakan kesiapannya untuk blusukan ke seluruh provinsi, kota, kabupaten, hingga ribuan kecamatan di Indonesia. Semua demi partai yang dipimpin anaknya itu.
Waow. Ambisinya sungguh luar biasa. Berbagai kritik pedas masih menganga, sorotan atas sepak terjang politiknya yang dinilai merusak demokrasi belum reda. Tapi, tampaknya ia tak kapok. Justru terus memprovokasi.
Di tengah panggung yang dipenuhi politisi yang oleh banyak kalangan dianggap ‘dadakan’ Jokowi seperti biasa tak lupa menampilkan simbol budaya. Topi adat selalu menghiasi kepalanya, membangun kesan pemimpin yang sadar budaya. Namun, jika dicermati kebiasaannya, simbol-simbol itu kerap hanya jadi alat pencari simpati politik. Populis, tapi seringkali ujung-ujungnya merugikan rakyat kecil.
Membaca ringkasan disertasi Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP, ada poin yang menarik perhatian.
Ya, ambisi menjadi atau minimal dianggap sebagai raja memang terasa kuat. Demokrasi dan konstitusi seolah jadi musuh utamanya. Konon, kerakusan jabatan ini pernah mendorongnya meminta restu Megawati untuk tiga periode. Ditolak? Ia pun membangkang. Berkhianat.
Karakter serakah itu tak berhenti. Setelah jalan itu buntu, ia mengondisikan hal lain. Mahkamah Konstitusi yang diketuai adik iparnya akhirnya mengeluarkan keputusan kontroversial. Keputusan itulah yang membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka, anaknya yang waktu itu belum memenuhi syarat usia konstitusional, untuk melenggang menjadi calon wakil presiden.
Gibran sejatinya adalah pilihan terakhir untuk mewujudkan ambisi tiga periode. Tapi, Jokowi kemudian sadar. Tanpa dukungan partai politik yang besar dan kuat, Gibran yang sudah jadi wapres bisa terhenti di tengah jalan. Dukungan untuk maju di Pilpres 2029 pun belum tentu ada.
Artikel Terkait
Misteri Masa Lalu Kiai Sadrach: Benarkah Ia Pernah Nyantri?
Bosnia hingga Gaza: Cermin Kelam Perdamaian yang Dipaksakan
Sidang Kemnaker Bergulir: Aliran Dana Euro Rp50 Juta Mengarah ke Ibu Menteri
Lebih Pilih Penjara Setahun Daripada Kembalikan Uang Rp 4,6 Miliar