Diplomasi Megawati di Balik Kemenangan NU-Muhammadiyah di Ajang Bergengsi Abu Dhabi

- Selasa, 03 Februari 2026 | 03:35 WIB
Diplomasi Megawati di Balik Kemenangan NU-Muhammadiyah di Ajang Bergengsi Abu Dhabi

Di Abu Dhabi, udara Senin itu terasa hangat. Ahmad Basarah, Ketua DPP PDIP bidang Luar Negeri, berbicara pada sejumlah wartawan. Topiknya tentang peran krusial Megawati Soekarnoputri dalam kemenangan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Zayed Award 2024. Menurutnya, saat duduk sebagai juri, Megawati tak segan melakukan diplomasi intensif di dalam komite. Upayanya itu agar dua organisasi besar itu akhirnya dinobatkan sebagai pemenang.

“Ibu Megawati dengan sangat meyakinkan memperjuangkan NU dan Muhammadiyah di hadapan dewan juri internasional lainnya,” ujar Basarah.

Dia melanjutkan, “Beliau memaparkan bukti nyata bagaimana kedua organisasi ini menjadi pilar perdamaian, toleransi, dan persaudaraan kemanusiaan di Indonesia, bahkan dunia.”

Bagi Basarah, kemenangan ini bukan cuma simbol belaka. Ada hasil konkret yang mengikutinya. Diplomasi ala Megawati itu berbuah manis.

“Atas perjuangan tersebut, NU dan Muhammadiyah menerima hadiah sebesar satu juta dolar AS yang digunakan untuk kemaslahatan umat dan program kemanusiaan,” katanya.

Dia menegaskan, “Ini adalah bukti konkret diplomasi total Ibu Mega untuk bangsa.”

Nah, tahun ini, Megawati akan hadir lagi di ajang yang sama. Kali ini sebagai mantan juri. Kehadirannya, kata Basarah, sangat dihormati. Sebab, Ketum PDIP itu telah menjadi bagian penting dari perjalanan penjurian penghargaan pada periode 2024 lalu.

Agendanya cukup padat. Megawati akan jadi pembicara di Majelis Persaudaraan Manusia. Lalu, menghadiri upacara tahunan Zayed Award 2026. Juga sebagai tamu kehormatan dalam Gala Dinner dan Roundtable Meeting penghargaan tersebut.

Lantas, apa sih Zayed Award ini? Basarah menerangkan, ini adalah ajang bagi para pejuang kemanusiaan. Bergengsi. Pemenangnya berhak atas hadiah satu juta dolar AS.

“Penghargaan Zayed untuk Persaudaraan Manusia adalah penghargaan tahunan independen dan internasional,” jelas Wakil Ketua MPR RI periode 2019-2024 itu.

“Penghargaan ini mengakui individu atau entitas di seluruh dunia yang memimpin dengan memberi contoh, berkolaborasi tanpa pamrih, dan bekerja tanpa lelah untuk menjembatani kesenjangan serta menciptakan hubungan manusia yang nyata,” tambahnya.

Penghargaan ini didedikasikan untuk mengenang Pendiri UEA, Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan. Nilai-nilai yang dipegang teguh adalah warisannya: semangat kemanusiaan, moralitas, dan dedikasi untuk bekerja sama dengan semua orang, terlepas dari latar belakang.

Ceritanya berawal dari sebuah pertemuan bersejarah. Tanggal 4 Februari 2019, Imam Besar Al-Azhar, Prof. Ahmed Al-Tayeb, dan Paus Fransiskus bertemu. Mereka menandatangani dokumen Persaudaraan Manusia. Pertemuan itu sekaligus menandai berdirinya Zayed Award.

Karena signifikansinya, kedua pemimpin agama itu pun dinobatkan sebagai penerima pertama penghargaan ini di tahun 2019. Pertemuan mereka dianggap sebagai seruan perdamaian bagi umat manusia.

Sejak 2021, nominasinya terbuka untuk global. Siapa pun yang berupaya memperkuat ikatan manusia, mengatasi perpecahan, dan membangun komunitas tangguh, bisa diajukan.

“Inilah semangat yang dibawa Ibu Megawati,” kata Basarah, menutup penjelasannya.

“Dan inilah alasan mengapa NU dan Muhammadiyah dinilai sangat layak menerimanya pada tahun 2024 lalu.”

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler