Buku dan Pensil yang Tak Terbeli, Nyawa Bocah Ngada yang Tak Terselamatkan

- Rabu, 04 Februari 2026 | 15:48 WIB
Buku dan Pensil yang Tak Terbeli, Nyawa Bocah Ngada yang Tak Terselamatkan

Suasana di Dusun Sawasina, Ngada, masih terasa berat. Kabar meninggalnya seorang bocah kelas IV SD pada Kamis siang, 29 Januari, bukan sekadar berita duka biasa. Ini adalah tamparan keras.

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, tak bisa menyembunyikan kepedihannya. "Peristiwa meninggalnya seorang bocah SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, karena dugaan bunuh diri dengan menggantungkan diri, sangat memilukan semua kita yang mempunyai hati," ucap Hugo, Rabu (4/2).

Baginya, tragedi ini harus menggugah nurani siapa pun. Sungguh memilukan.

"Tanggung jawab sosial kita seharusnya terusik," lanjutnya. Ia menekankan, kita semua harus jadi tumpuan agar generasi anak-anak bisa tumbuh dewasa dan berguna nantinya.

Menurut Hugo, kejadian ini jelas mencerminkan sesuatu yang hilang. Hilangnya perhatian, hilangnya kasih sayang, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitar. "Bagaimanapun peristiwa ini merupakan tamparan untuk kita sebagai masyarakat," tegasnya, "ketika seorang bocah meninggal tragis karena putus asa."

Ia pun menyoroti langkah yang harus segera diambil. Pertama, aparat kepolisian diminta menyelidiki penyebab kematian korban secara tuntas. Kedua, peran pemerintah daerah dinilai krusial untuk memberikan pendampingan serius kepada keluarga yang ditinggalkan.

"Pihak Pemda perlu serius menangani keluarga anak ini sehingga tidak terulang lagi kasus semacam ini," kata Hugo.

Namun begitu, tanggung jawab mencegah terulangnya musibah seperti ini tidak boleh dibebankan pada satu pihak saja. Hugo menegaskan, negara memang punya tugas besar. Tapi ketika negara mungkin belum maksimal, elemen lain dalam masyarakat tidak boleh diam.

"Kalau negara belum mampu mengentaskan kemiskinan, iya. Tapi juga faktor keluarga, faktor masyarakat, sekolah, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan tentu juga seharusnya bertanggung jawab," pungkasnya. Setidaknya, kata dia, kita semua harus merasa prihatin.

Ia berharap, peristiwa pilu ini bisa jadi pelajaran bersama. Agar kita semua, sebagai bangsa, lebih peka. Terutama pada anak-anak yang berada dalam situasi rentan. "Semoga dari peristiwa kita semua di bangsa ini, di masyarakat ini sadar, sehingga tidak terjadi lagi," harapnya.

Detil kisahnya semakin menyayat. Sebelum mengakhiri hidup, anak berusia 10 tahun itu sempat meminta dibelikan buku dan pensil pada ibunya. Sang ibu, tanpa uang, tak bisa memenuhi permintaan sederhana itu. Kini, di Desa Nuruwolo, duka yang mendalam bukan hanya milik keluarga, tapi juga seluruh warga yang turut merasakan kehilangan.

Sebuah permintaan kecil yang tak terpenuhi, berujung pada keputusan yang tak terpikirkan. Ini meninggalkan luka dan pertanyaan yang harus dijawab bersama.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar