11 Hari Pasca-Bencana, Ribuan Warga Agam Masih Terjebak di Balik Runtuhan

- Selasa, 09 Desember 2025 | 08:45 WIB
11 Hari Pasca-Bencana, Ribuan Warga Agam Masih Terjebak di Balik Runtuhan

Sudah sebelas hari berlalu, namun keadaan di Agam, Sumatra Barat, masih jauh dari kata pulih. Hingga Senin malam (8/12), tak kurang dari 2.828 warga masih terkurung di daerah mereka, terisolasi total pasca banjir bandang dan tanah longsor yang melanda. Pemerintah setempat kini berjibaku membuka jalan dan menyalurkan bantuan logistik secepat mungkin.

Angka korban terdampak sendiri cukup mencengangkan. Data terbaru Pemkab Agam per pukul 20.00 WIB tanggal 8 Desember mencatat, total 18.297 jiwa terkena imbas bencana. Fokus utama saat ini jelas: membuka akses yang terputus dan memastikan bantuan sampai ke kantong-kantong warga yang paling sulit dijangkau.

Mereka yang terisolasi itu tersebar di lima kecamatan: Palupuh, Malalak, Matur, Palembayan, dan Tanjung Raya. Situasi paling kritis dilaporkan dari Palupuh, tepatnya di Nagari Pagadih. Di Jorong Pagadih Hilia dan Tigo Kampung, jalan benar-benar hilang tertimbun material longsor. Suara mesin alat berat terus menggema di sana, berusaha membuka jalan yang terputus total.

Di sisi lain, Kecamatan Matur juga menghadapi ujian berat. Nagari Lawang dan Sipinang, misalnya. Seluruh jorong di Sipinang dan Jorong Pabatungan di Lawang masih terkurung sama sekali. Begitu pula di Nagari IV Koto Palembayan, hampir semua wilayahnya kecuali Jorong Lambeh masih jadi daerah yang sulit ditembus.

Namun begitu, ada secercah harapan yang mulai muncul. Seiring gencarnya upaya perbaikan, beberapa nagari dan jorong perlahan mulai kembali terhubung, meski aksesnya masih sangat terbatas. Perkembangan kecil ini penting banget untuk perlahan mengurangi angka warga yang terisolasi.

Contohnya di Malalak, yang dulu termasuk titik terparah. Kini, jalur menuju Campago, Sigiran, Koto Andaleh, dan Limo Badak di Nagari Malalak Utara sudah bisa dilewati walau cuma untuk sepeda motor. Akses sempit ini jadi jalur vital bagi tim gabungan untuk menyelundupkan bantuan.

Lompatan yang lebih menggembirakan terjadi di Palembayan. Beberapa titik seperti Jorong Silungkang dan Tantamn di Nagari IV Koto Palembayan, plus sejumlah jorong di Sungai Puar dan Baringin, sudah bisa dilalui motor bahkan mobil. Ini jadi angin segar buat distribusi logistik dan obat-obatan, yang akhirnya bisa menjangkau wilayah seperti Jorong Data Baringin dan Data Munti.

Sayangnya, tidak semua wilayah bernasib sama. Di Kecamatan Tanjung Raya, warga Nagari Paninjauan (khususnya Jorong Simpang Dingin) dan Nagari Maninjau masih berjuang. Ratusan jiwa di sana masih terkurung, menjadikannya salah satu fokus utama tim di lapangan saat ini.

Menanggapi kondisi ini, Bupati Agam H. Benni Warlis menegaskan prioritasnya.

"Prioritas kami saat ini adalah memangkas angka 2.828 jiwa yang masih terisolasi ini," ujarnya.

Ia menekankan, proses pembukaan akses di Palembayan dan Matur harus benar-benar dipercepat. Tujuannya jelas: agar distribusi logistik dan evakuasi mandiri bisa berjalan lancar.

"Kami mengerahkan alat berat secara masif di Jorong Pagadih Hilia dan Tigo Kampung di Palupuh, serta memastikan jalur di Malalak yang kini sudah bisa dilalui roda dua dan empat dapat dipertahankan," tambah Benni Warlis.

Upaya perbaikan infrastruktur jalan yang ambles atau tertimbun longsor ini terus dikebut. Tim gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, plus relawan lokal bekerja tanpa henti. Normalisasi jalur transportasi ini jadi kunci penentu bak hidup matinya penyaluran bantuan dan evakuasi.

Pemerintah daerah juga mengingatkan warga di daerah yang sudah terjangkau untuk tetap waspada. Status tanggap darurat bencana di Kabupaten Agam masih berlaku. Dengan kerja sama semua pihak dan percepatan pembukaan akses, diharapkan jumlah warga terisolasi bisa segera ditekan. Targetnya satu: semua korban terdampak akhirnya mendapat bantuan yang mereka butuhkan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar