Serangan Udara di Gaza Tewaskan 28 Warga, Seperempatnya Anak-anak

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 23:42 WIB
Serangan Udara di Gaza Tewaskan 28 Warga, Seperempatnya Anak-anak

Asap masih mengepul, sementara petugas penyelamat berteriak-teriak memanggil rekan mereka. Di tengah reruntuhan sebuah gedung di distrik Sheikh Radwan, Gaza, suasana pagi Sabtu (31/1) itu berubah jadi mimpi buruk. Menurut laporan badan pertahanan sipil setempat, serangan udara Israel menewaskan 28 orang. Yang bikin pilu, seperempat dari korban itu adalah anak-anak.

“Dua puluh delapan orang telah ditemukan (tewas), seperempatnya adalah anak-anak, sepertiganya adalah perempuan, dan satu orang tua,” begitu bunyi pernyataan resmi mereka.

Badan itu, yang beroperasi di bawah otoritas Hamas, menambahkan bahwa masih ada orang yang hilang tertimbun. Pencarian terus dilakukan, meski harapannya tipis.

Menurut juru bicara badan pertahanan sipil, Mahmud Bassal, serangan ini menyasar berbagai lokasi. “Apartemen tempat tinggal, tenda, tempat penampungan, dan kantor polisi menjadi sasaran, yang mengakibatkan bencana kemanusiaan ini,” ujarnya.

Di sisi lain, militer Israel punya alasan sendiri. Mereka menyebut serangan ini sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas. Padahal, gencatan senjata yang dimediasi AS sebenarnya sudah memasuki fase kedua awal bulan ini. Tapi nyatanya, kekerasan di wilayah Palestina seperti tak pernah benar-benar reda.

Salah satu titik serangan yang paling parah adalah sebuah kantor polisi. Serangan menghantam gedung itu dan menewaskan tujuh orang. Bassal menyebut, di antara korban terdapat empat petugas polisi wanita.

“Korban tewas termasuk petugas dan personel polisi serta warga sipil yang berada di kantor polisi pada saat itu,” jelas Direktorat Kepolisian Umum Gaza dalam keterangan terpisah.

Kejadian ini terjadi tak lama setelah Israel mengumumkan akan membuka kembali penyeberangan Rafah pada hari Minggu. Penyeberangan antara Gaza dan Mesir itu dibuka untuk pergerakan orang yang terbatas. Entah ada kaitannya atau tidak, situasi justru memanas sebelum pengumuman itu berlaku.

Bukan cuma di kota. Serangan lain juga mengguncang Al-Mawasi, sebuah daerah di Gaza selatan yang dijadikan lokasi pengungsian. Puluhan ribu orang tinggal di sana, bernaung di tenda-tenda darurat yang berjejal. Sebuah kepulan asap hitam besar terlihat membubung di atas pemukiman darurat itu. Sampai berita ini diturunkan, jumlah korban di Al-Mawasi masih belum bisa dipastikan.

Memang, sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober, korban jiwa hampir setiap hari berjatuhan. Tapi jumlah korban pada Sabtu ini terasa sangat tinggi. Sebuah hari yang kelam, lagi-lagi, bagi warga Gaza.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler