Trans Jatim Koridor I Meluncur, Solusi Baru Atasi Kemacetan Malang

- Jumat, 21 November 2025 | 17:05 WIB
Trans Jatim Koridor I Meluncur, Solusi Baru Atasi Kemacetan Malang
Trans Jatim Koridor I Resmi Beroperasi di Malang

Kemacetan di Malang Raya mungkin akan menemukan penawaran solusinya. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, dengan tegas menyatakan bahwa kehadiran Trans Jatim Koridor I merupakan langkah strategis. Ia yakin, layanan baru ini akan memperkuat konektivitas sekaligus menekan kemacetan yang kian parah.

Optimismenya tinggi. Wahyu berharap warga mau beralih ke transportasi umum yang lebih efisien dan, yang tak kalah penting, terjangkau. Menurutnya, rute yang dilalui koridor ini melintasi pemukiman, pusat ekonomi, layanan publik, hingga kawasan pendidikan dan wisata memang memiliki intensitas mobilitas yang sangat tinggi. Hal ini disampaikannya saat mendampingi Gubernur Jawa Timur dalam peresmian di Balai Kota Malang, Kamis lalu.

"Moda transportasi ini memang sangat dibutuhkan," ujar Wahyu dalam keterangan tertulis pada Jumat (21/11/2025).

Ia melanjutkan, "Pergerakan-pergerakan masyarakat menuju titik-titik tersebut dapat terlayani oleh koridor ini. Kami berharap ini akan mengurangi kemacetan."

Visi besarnya jelas: mencegah kemacetan. Dengan adanya Trans Jatim, ia yakin pergerakan kendaraan pribadi akan berkurang. Masyarakat kini punya pilihan transportasi yang nyaman dan harganya bersahabat.

Layanan Koridor I ini menghubungkan Terminal Hamid Rusdi, Landungsari, hingga Batu. Untuk umum, tarifnya cuma Rp5.000, sementara mahasiswa cukup bayar Rp2.500. Yang menarik, sistemnya time-based, berlaku selama dua jam. Wahyu sudah menanti kelanjutannya, berharap Koridor II dan III segera terwujud untuk melengkapi akses di Malang Raya, sesuai komitmen Spirit Senyawa.

Namun begitu, kehadiran bus besar ini tentu memunculkan pertanyaan tentang nasib angkutan kota (angkot) yang sudah ada lebih dulu. Wahyu punya jawabannya. Ia menegaskan perlunya penataan agar operasional angkot dan Trans Jatim bisa saling melengkapi, bukan saling mematikan.

Pemkot Malang sendiri sudah menyiapkan pendampingan melalui koordinasi dengan organisasi angkutan dan para sopir. Beberapa opsi penataan sedang digodok, mulai dari penyesuaian trayek, integrasi halte, hingga membuka peluang kemitraan dalam layanan feeder.

Yang patut diapresiasi, Trans Jatim ini ternyata melibatkan partisipasi langsung para sopir angkot. Sebanyak 35 sopir turut terlibat dalam pengoperasian layanan, termasuk sopir dari angkutan AMG yang bahkan menjadi pengemudi bus saat peluncuran.

Langkah ini disebut Wahyu sebagai wujud kolaborasi nyata. Tujuannya, agar para sopir angkot tetap dapat ruang dan kesempatan dalam sistem transportasi yang sedang diperkuat pemerintah ini.

"Prinsipnya, kita ingin semuanya bergerak maju bersama," tegasnya.

Pada akhirnya, semua langkah integratif ini diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk meninggalkan kendaraan pribadi. Semakin banyak yang beralih ke angkutan umum, semakin ringan pula beban jalanan di Malang Raya. Itulah harapan yang digantungkan pada Trans Jatim.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar