Namun begitu, kehadiran bus besar ini tentu memunculkan pertanyaan tentang nasib angkutan kota (angkot) yang sudah ada lebih dulu. Wahyu punya jawabannya. Ia menegaskan perlunya penataan agar operasional angkot dan Trans Jatim bisa saling melengkapi, bukan saling mematikan.
Pemkot Malang sendiri sudah menyiapkan pendampingan melalui koordinasi dengan organisasi angkutan dan para sopir. Beberapa opsi penataan sedang digodok, mulai dari penyesuaian trayek, integrasi halte, hingga membuka peluang kemitraan dalam layanan feeder.
Yang patut diapresiasi, Trans Jatim ini ternyata melibatkan partisipasi langsung para sopir angkot. Sebanyak 35 sopir turut terlibat dalam pengoperasian layanan, termasuk sopir dari angkutan AMG yang bahkan menjadi pengemudi bus saat peluncuran.
Langkah ini disebut Wahyu sebagai wujud kolaborasi nyata. Tujuannya, agar para sopir angkot tetap dapat ruang dan kesempatan dalam sistem transportasi yang sedang diperkuat pemerintah ini.
"Prinsipnya, kita ingin semuanya bergerak maju bersama," tegasnya.
Pada akhirnya, semua langkah integratif ini diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk meninggalkan kendaraan pribadi. Semakin banyak yang beralih ke angkutan umum, semakin ringan pula beban jalanan di Malang Raya. Itulah harapan yang digantungkan pada Trans Jatim.
Artikel Terkait
Generasi Z Paling Kencang Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD
SPPG di Sragen Dipindahkan Usai Protes Berdampingan dengan Peternakan Babi
Prabowo Terpana, Lima Emas Martina Ayu Bergelayut di Istana
Deretan Mobil Mewah Hasil Rampasan Korupsi Siap Dilelang Kejagung