Pada Kamis lalu, sidang skripsi di Fakultas Peternakan UGM berlangsung dengan khidmat. Yang membedakan, mahasiswa yang mempresentasikan hasil penelitiannya adalah Siham Hamda Zaula Mumtaza, seorang penyandang Autis Asperger. Gangguan perkembangan ini seringkali membuat penderitanya kesulitan berkomunikasi dan bersosialisasi. Tapi bukan halangan bagi Siham.
Dia berhasil mempertahankan skripsinya yang berjudul "Tingkah Laku Harian Domba Ekor Tipis di Pusat Penelitian Ternak Fakultas Peternakan UGM". Sebuah topik yang sangat dekat dengan kesehariannya. Keluarga Siham di Jepara, Jawa Tengah, sudah berternak kambing dan domba sejak 2017. Jadi, pilihannya meneliti domba ekor tipis selama 30 hari berturut-turut bukanlah kebetulan. Jurusan peternakan memang impiannya.
Tim penguji sidangnya pun bukan sembarangan. Hadir Prof. Dr. Ir. Tri Satya Mastuti Widi, beserta Ir. Riyan Nugroho Aji dan Ir. Hamdani Maulana. Sidang berjalan lancar. Meski ada sedikit catatan revisi, Siham merasa lega. Sebentar lagi dia resmi jadi sarjana.
Perjalanannya tentu tidak mulus. Dikenal sebagai pribadi yang sensitif terhadap suara keras, Siham harus berjuang lebih keras, terutama dalam hal komunikasi.
"Kesulitannya justru di pengolahan data menggunakan SPSS karena itu hal baru bagi saya, jadi hampir tiga bulan saya belajar untuk menunjang penelitian,"
ungkap Siham dalam sebuah keterangan tertulis.
Dia juga mengakui, saat praktikum, beberapa kali memerlukan pendampingan untuk memahami pengarahan dengan baik. Tantangan lain datang dari sistem kuliah yang berubah-ubah akibat pandemi, dari daring kembali ke luring. Tapi semua itu dihadapinya.
Sejak awal masuk pada 2019 sebagai penerima beasiswa Bidikmisi, Siham aktif di Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM. Tempat itu menjadi ruang aman baginya.
"Kami saling membantu. Setiap tahun ajaran baru selalu ada mahasiswa difabel baru, saya sering bertugas mengenalkan dan berbagi cerita ke mereka,"
katanya dengan semangat.
Melalui perjuangannya, Siham punya pesan yang kuat. Dia ingin membuktikan bahwa penyandang disabilitas mampu menempuh pendidikan tinggi.
"Pokoknya teman-teman disabilitas jangan putus asa dan jangan gampang down,"
tegasnya.
Dosen pembimbingnya, Prof. Tri Satya Mastuti Widi yang akrab disapa Vitri memuji ketekunan Siham. Menurutnya, Siham adalah pribadi yang serius dan sangat detail.
"Hal-hal detail yang mungkin terlewat oleh orang lain, Siham justru mampu memahami dengan baik,"
kata Vitri.
Sebuah sidang skripsi yang mungkin rutin bagi kampus, tapi penuh makna dan inspirasi bagi banyak orang. Siham membuktikannya.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Anjlok Rp35.000 per Gram dalam Sehari, Buyback Ikut Terkoreksi
Polisi Periksa Tiga Terduga Pelaku Pengeroyokan Imam Masjid di Palopo
Everton Vs Manchester City 3-3: Drama Enam Gol, Doku Selamatkan The Citizens di Menit Akhir
Truk Tangki Modifikasi Muat 5 Ton Solar Terguling, Puluhan Kecelakaan Beruntun di Bangkalan