Setelah berbulan-bulan mendapat tekanan dari berbagai pihak, Israel akhirnya mulai membuka kembali perlintasan Rafah di perbatasan Gaza-Mesir pada Minggu lalu. Tapi jangan berharap terlalu dulu. Pembukaannya masih sangat terbatas, hanya untuk pergerakan orang, sementara arus bantuan kemanusiaan tetap belum bisa masuk sepenuhnya.
Menurut badan kementerian pertahanan Israel, COGAT, langkah ini masih dalam tahap awal. "Perlintasan Rafah dibuka hari ini untuk perlintasan terbatas bagi warga saja," begitu bunyi pernyataan mereka yang dikutip AFP. Situasinya memang masih rapuh. Meski gencatan senjata berlaku, kekerasan belum benar-benar padam. Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan puluhan warga tewas akibat serangan Israel sehari sebelumnya, Sabtu. Militer Israel membalas dengan menyebut serangan itu sebagai respons atas pelanggaran gencatan.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Rafah dibuka sebentar lalu ditutup lagi. Jalur vital ini sudah ditutup sejak Mei 2024, setelah pasukan Israel mengambil alih wilayah itu. Sekarang, harapan baru muncul, meski samar-samar.
Di sisi lain, ada kabar dari seorang pejabat Kesehatan Gaza yang menyebut sekitar 200 pasien sedang antre izin untuk keluar Gaza mencari perawatan medis yang lebih baik. Bersamaan dengan itu, sekitar 40 warga Palestina yang terkait dengan Otoritas Palestina dilaporkan telah tiba di sisi Mesir, siap masuk ke Gaza untuk memulai tugas mereka.
Pembukaan ini ternyata punya latar belakang yang cukup pelik. Israel sebelumnya bersikeras tidak akan membuka Rafah sebelum jasad Ran Gvili, sandera terakhir mereka di Gaza, dikembalikan. Nah, jasad Gvili berhasil ditemukan dan dimakamkan di Israel pada Rabu lalu. Hanya dua hari setelahnya, rencana pembukaan perbatasan diumumkan. Cukup menarik untuk dicermati.
COGAT menjelaskan, akses keluar-masuk warga Gaza nantinya akan dikoordinasikan dengan Mesir, tentu saja dengan izin keamanan dari Israel dan diawasi oleh misi Uni Eropa. Mereka menyebut ini cuma uji coba awal.
"Ini adalah tahap uji coba awal yang dikoordinasikan dengan Uni Eropa, dengan persiapan pendahuluan untuk meningkatkan kesiapan menuju pengoperasian penuh perlintasan," ujar COGAT. "Perlintasan aktual warga ke dua arah akan dimulai setelah persiapan ini selesai."
Pembukaan yang lebih luas rencananya baru terjadi Senin kemarin. Tapi, sampai berita ini diturunkan, belum ada kejelasan soal berapa banyak warga Palestina yang diizinkan melintas. Mesir disebut akan menerima semua warga yang sudah dapat lampu hijau dari Israel.
Bagi warga Gaza, ini adalah secercah harapan. Kondisi di sana memang memprihatinkan. Ambil contoh Mohammed Shamiya, pria 33 tahun penderita penyakit ginjal yang butuh cuci darah di luar negeri. "Setiap hari yang berlalu menguras hidup saya dan memperburuk kondisi saya," katanya dengan nada putus asa. "Saya menunggu setiap saat pembukaan perlintasan darat Rafah."
Harapan serupa datang dari Safa al-Hawajri, seorang remaja 18 tahun penerima beasiswa. "Saya menunggu dengan harapan bisa mewujudkan ambisi saya, yang bergantung pada pembukaan perlintasan ini. Saya berharap bisa segera bepergian begitu perlintasan dibuka," ujarnya penuh semangat.
Rafah memang unik. Ini satu-satunya pintu keluar-masuk Gaza yang tidak melalui Israel, terletak di perbatasan selatan dengan Mesir. Saat ini, kawasan itu secara de facto masih di bawah kendali pasukan Israel, meski mereka sudah mundur ke garis batas tertentu sesuai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS.
Pembukaan Rafah juga diharapkan bisa mempermudah masuknya Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG), sebuah badan teknokrat beranggotakan 15 orang yang dibentuk untuk mengurus pemerintahan sehari-hari di Gaza. Komite ini diawasi oleh sebuah dewan perdamaian yang diketuai Donald Trump. Namun, rencananya belum jelas. Seorang anggota NCAG mengaku mereka belum dijadwalkan masuk pada Minggu lalu.
"Ketua komite diberi tahu bahwa Israel telah menyetujui masuknya para anggota ke Gaza, tetapi belum menetapkan tanggalnya," ujarnya. Lalu dia menambahkan, "Kami menyerukan kepada para mediator dan pemerintah AS untuk mempercepat operasional perlintasan dan meningkatkan jumlah pelintas."
Jadi, meski pintu sudah sedikit terbuka, jalan di depannya masih panjang dan berliku. Semua pihak tampaknya masih menunggu, sambil berharap situasi tak kembali memburuk.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu