Hakim Kutip Deklarasi Kemerdekaan, Perintahkan Pembebasan Anak 5 Tahun dari Penahanan Imigrasi

- Minggu, 01 Februari 2026 | 15:50 WIB
Hakim Kutip Deklarasi Kemerdekaan, Perintahkan Pembebasan Anak 5 Tahun dari Penahanan Imigrasi

Di sebuah pinggiran kota Minneapolis yang diselimuti salju, seorang anak lelaki berusia lima tahun bernama Liam Conejo Ramos dan ayahnya, Adrian, diambil dari pintu rumah mereka oleh agen imigrasi. Mereka kemudian dibawa jauh sekitar 1.300 mil ke sebuah fasilitas penahanan keluarga di Dilley, Texas. Setelah lebih dari seminggu berada di balik jeruji, sebuah perintah pengadilan federal akhirnya memerintahkan pembebasan mereka.

Perintah itu datang dari Hakim Distrik AS Fred Biery. Ia memerintahkan agar Liam dan Adrian dibebaskan 'sesegera mungkin', paling lambat hari Selasa, sembari kasus imigrasi mereka berjalan di pengadilan. Putusan ini pertama kali dilaporkan oleh San Antonio Express-News, dan salinannya dikonfirmasi oleh CNN melalui wakil hakim.

Nada perintah hakim itu sendiri cukup tajam. Biery secara terbuka menegur pemerintah karena dianggapnya 'mengabaikan' dokumen bersejarah Amerika, terutama Deklarasi Kemerdekaan. Ia bahkan mengutip keluhan Thomas Jefferson soal 'seorang calon raja otoriter'. Menurutnya, gema sejarah itu kini terdengar lagi.

Tak cuma kata-kata. Dalam penyimpangan menarik dari norma penulisan yudisial yang kaku, Hakim Biery menyertakan gambar Liam yang kini terkenal di akhir dokumennya, tepat di bawah tanda tangannya. Foto itu dilengkapi dengan referensi pada ayat Alkitab: Matius 19:14 dan Yohanes 11:35.

Foto itulah yang mungkin memicu amarah publik. Gambar itu menunjukkan seorang agen memegang ransel Spider-Man milik Liam, sementara bocah itu sendiri menatap dari balik topi bergambar kelinci kartun. Potret itu menjadi simbol nyata dan memilukan dari operasi penindakan imigrasi besar-besaran yang digencarkan pemerintahan Trump di Minneapolis dan menuai kritik dari banyak pihak.

Menyambut keputusan itu, pengacara keluarga mengeluarkan pernyataan.

"Kami sekarang bekerja sama dengan klien kami dan keluarga mereka untuk memastikan reuni yang aman dan tepat waktu," begitu bunyinya.

"Kami senang bahwa keluarga sekarang dapat fokus untuk bersama dan menemukan kedamaian setelah cobaan traumatis ini."

Kini, tinggal menunggu waktu. Liam dan ayahnya bersiap untuk meninggalkan Pusat Residensial Keluarga Texas Selatan. Perjalanan panjang mereka menuju kebebasan dan ketidakpastian yang masih menyelimuti kasus hukum mereka baru saja memasuki babak baru.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar