Umi Waheeda dan 12.000 Santri yang Menolak Tunduk pada Pungli

- Minggu, 01 Februari 2026 | 17:20 WIB
Umi Waheeda dan 12.000 Santri yang Menolak Tunduk pada Pungli

Gini, deh. Sementara banyak orang sibuk berdebat soal anggaran, menciptakan jargon-jargon yang mentereng namun ujung-ujungnya cuma menunggu dana cair, ada seorang perempuan yang diam-diam membuat semua itu terlihat memalukan. Bukan dengan teriakan. Justru karena beliau tidak meminta apa-apa.

Namanya Umi Waheeda.

Beliau tak main-main dengan proposal tebal. Tak mengemis ke kementerian. Di saat banyak lembaga bertahan hidup dari "bantuan", beliau memilih jalan yang jauh lebih berliku: membangun mesinnya sendiri.

Mesin itu bernama Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School. Sebuah pesantren yang benar-benar gratis.

Bayangkan saja. Lima belas ribu anak makan, sekolah, dan tinggal tanpa pernah ditagih sepeser pun. Ini bukan gratis karena subsidi besar atau donor asing. Konsepnya lugas: zero proposal untuk operasional harian. Sementara proyek-proyek lain masih berkutat dengan pertanyaan "anggarannya dari mana?", beliau sudah lama beralih ke "produksinya bagaimana?".

Jawabannya? Ekosistem mandiri. Ada pabrik roti, produksi tahu dan susu kedelai, budidaya lele sistem bioflok, percetakan, hingga toko serba ada dengan sistem voucher. Uang saku santri berputar di dalam, lalu menjadi modal, lalu berubah lagi menjadi produksi. Ini bukan ceramah. Ini ekonomi yang berdenyut nyata.

Makanya, satu sosok ini bisa membuat program-program pemberdayaan besar terasa seperti presentasi PowerPoint belaka. Beliau tidak sekadar bicara pemberdayaan, tapi menjalankannya. Tidak berkoar ketahanan pangan, tapi mengelola sawah ratusan hektar. Tidak menyebut-nyebut kemandirian ekonomi umat, tapi membangun 59 unit usaha produktif.

Perbedaannya jelas, kan?
Yang satu menunggu cair.
Yang satu mencari cara.

Yang membuatnya lebih mengena, beliau adalah seorang perempuan. Berkiprah di lingkungan yang masih sangat maskulin, di mana suara perempuan kerap dipinggirkan. Nyatanya? Beliau memimpin ribuan santri, mengatur sistem sekompleks kota kecil. Tegas? Pasti. Disiplin? Tidak main-main. Tapi semua tetap memanggilnya dengan sebutan hangat: Umi.

Ada satu momen yang menurut saya sangat menggambarkan siapa beliau: perlawanannya terhadap pungutan liar dari pemerintah.

Ini bagian yang jarang diungkit, padahal inilah salah satu momen paling berani dalam perjalanannya.

Kisahnya terjadi sekitar Desember 2008. Kala itu, Umi Waheeda dan almarhum suaminya tidak tinggal diam saat menduga ada oknum di Departemen Agama (sekarang Kemenag) yang meminta pungli. Pola yang umum kan begini: lembaga pendidikan ditekan halus, dipersulit administrasinya, lalu muncul 'jalan keluar' tidak resmi. Banyak yang akhirnya mengangguk, takut izinnya bermasalah.

Tapi Umi Waheeda berbeda.

Dengan penuh keyakinan, beliau justru memimpin sekitar 12.000 santri untuk turun ke jalan menolak praktik itu. Bayangkan, dua belas ribu orang. Suara penolakan itu bergema dan sampai ke media massa. Pesannya tegas: pesantren ini tidak mau bermain di jalur gelap. Jika ada yang coba-coba main kotor, kami akan melawan secara terbuka.

Ini poin yang perlu direnungkan.

Pesantren ini sejak awal dibangun dengan konsep kemandirian. Tidak hidup dari proposal. Tidak bergantung pada dana rutin dari luar. Jadi, saat tekanan birokrasi datang, posisi tawar mereka berbeda. Mereka tidak dalam posisi "takut kehilangan bantuan". Mereka bisa berdiri tegak dan berkata: kami tidak mau dipalak.

Bagi saya, aksi itu lebih dari sekadar demonstrasi. Itu adalah pesan keras kepada birokrasi: jangan pernah menganggap lembaga pendidikan sebagai pihak yang lemah dan mudah ditaklukkan dengan administrasi.

Pungli sering hidup karena dua pihak bermain: si peminta dan si penurut yang takut. Namun, ketika salah satu pihak menolak dan berani bersuara lantang, seluruh permainan berubah.

Dan yang berdiri di garda terdepan bukanlah politisi atau pejabat, melainkan seorang perempuan pemimpin pesantren. Simbolismenya sangat kuat.


Halaman:

Komentar