Di dataran beku Siberia, rahasia berusia ratusan tahun mulai terungkap dari dalam tanah. Sisa-sisa jasad mumi masyarakat adat Yakut, yang terawetkan secara alami, ternyata menyimpan cerita luar biasa tentang ketahanan genetik dan budaya. Mereka bertahan, bahkan ketika Kekaisaran Rusia datang menaklukkan.
Sebuah studi panjang yang dipublikasikan di Nature mengonfirmasi hal itu. Bangsa Yakut, menurut temuan itu, berhasil mempertahankan identitas genetik mereka dengan kokoh. Ini berlaku untuk periode sebelum, selama, dan setelah penaklukan Rusia berlangsung. Sebuah pencapaian yang jarang terjadi dalam sejarah kolonialisme.
Lebih dari seratus jasad, dimakamkan antara abad ke-14 dan ke-19, telah dianalisis. Hasilnya jelas: komunitas ini menolak asimilasi dengan cara yang unik. Mereka tidak mudah tergerus.
“Analisis menunjukkan bahwa warisan genetik Yakut tetap stabil dari abad ke-16 hingga sekarang,” jelas Perle Guarino-Vignon, salah satu penulis studi dari Saint-Antoine Research Center di Paris.
Ia menambahkan, “Ini menandakan tidak terjadi penaklukan melalui penggantian populasi, kemungkinan besar karena sulitnya menetap di lingkungan yang ekstrem.”
Riset yang hampir memakan waktu 16 tahun ini berfokus pada 122 individu dari empat wilayah Yakutia. Tujuannya sederhana tapi ambisius: melacak apakah penjajahan Rusia sejak 1632 meninggalkan jejak genetik yang dalam. Jawabannya? Tidak signifikan.
Asal-usul genetik orang Yakut modern justru bisa ditelusuri jauh ke belakang, hingga abad ke-12 dan 13. Ini selaras dengan cerita lisan yang diwariskan turun-temurun di komunitas mereka. Berbeda dengan nasib banyak kelompok adat lain, di sini tidak ditemukan bukti penurunan populasi drastis atau percampuran genetik besar-besaran dengan pendatang Rusia.
Menariknya, ketahanan itu tidak hanya terlihat pada DNA. Para peneliti juga mengupas mikrobioma mulut dari gigi dan plak para mumi. Mereka menduga pola makan baru ala Rusia seperti jelai, gandum hitam, atau tembakau akan mengubah komposisi mikroba tersebut. Nyatanya, mikrobioma masyarakat Yakut tetap relatif sama, bertahan melawan perubahan yang dibawa dari luar.
Gaun Merah dan Kuda-Kuda Pengiring
Di tengah upaya keras Rusia menyebarkan agama Kristen, praktik shamanisme ternyata bertahan hingga akhir abad ke-18. Bukti paling dramatis datang dari seorang shaman perempuan.
Dia meninggal lebih dari 250 tahun lalu, sekitar usia 30-an. Jasadnya ditemukan di situs Us Sergue, Yakutia tengah, dan oleh peneliti dijuluki UsSergue1. Wanita ini dimakamkan dengan penuh penghormatan: dalam peti dari batang pohon, mengenakan topi tradisional, pelindung kaki dari kulit, dan sebuah gaun wol merah mencolok yang dibuat dari selimut impor.
Tak jauh dari makamnya, sebuah lubang berisi tiga kerangka kuda. Salah satunya memiliki aksesori dengan motif yang serasi dengan gaun merah sang shaman. Detail-detail ini bukan sekadar hiasan.
“Kami menafsirkan UsSergue1 sebagai perwujudan klannya,” kata Ludovic Orlando, ahli genetika molekuler dari CNRS Prancis. “Ia menjadi simbol upaya mempertahankan tradisi spiritual mereka.”
Namun, analisis DNA membawa kejutan lain. Ternyata, orang tua UsSergue1 adalah kerabat dekat tingkat kedua. Mereka bisa jadi saudara tiri, paman dan keponakan, atau hubungan keluarga dekat lainnya. Ini menjadikannya individu dengan tingkat perkawinan sedarah tertinggi dalam sampel penelitian. Dia berasal dari klan berpengaruh dan diduga adalah shaman terakhir dari garis keturunannya.
Meski begitu, para peneliti buru-buru menegaskan. Menjadi shaman tidak mensyaratkan perkawinan sedarah. Buktinya, makam shaman lain yang diteliti tidak menunjukkan pola genetik serupa.
Kondisi Siberia yang membeku telah mengawetkan semua ini dengan nyaris sempurna. Pakaian, perhiasan, bahkan kondisi jasad memungkinkan penelitian mendetail.
“Pelestarian di lingkungan ini tidak tertandingi,” ujar Éric Crubézy, antropolog biologis dari CNRS. “Jasadnya begitu utuh hingga kami bisa melakukan autopsi. Bahkan pakaian dan perhiasan mereka tetap terjaga, memberi kesempatan langka untuk membandingkan data biologis dan budaya secara bersamaan.”
Pada akhirnya, kuburan-kuburan beku ini lebih dari sekadar kumpulan data genetik. Mereka adalah saksi bisu dari sebuah perlawanan budaya yang halus namun gigih, bertahan berabad-abad di salah tempat paling tak bersahabat di bumi.
Artikel Terkait
Cara Nonaktifkan Suara Jepretan Kamera iPhone Sesuai Model
Domain AI.com Terjual Rp1,1 Triliun, Pecahkan Rekor Termahal Sepanjang Sejarah
Koktail Berasap Berujung Tragis, Lambung Pria Ini Pecah Usai Teguk Nitrogen Cair
Petrichor: Aroma Hujan yang Menenangkan Pikiran dan Mengembalikan Keseimbangan