Ahli Ingatkan Risiko Kalori Tinggi di Balik Tren Kurma Keju Saat Berbuka

- Senin, 23 Februari 2026 | 05:00 WIB
Ahli Ingatkan Risiko Kalori Tinggi di Balik Tren Kurma Keju Saat Berbuka

Kurma keju lagi nge-hits banget di bulan Ramadhan ini. Perpaduannya yang unik buah kurma legit dibelah, lalu diisi dengan batangan keju memang bikin penasaran. Sensasi gurih-manisnya itu lho, yang konon bikin buka puasa terasa lebih spesial. Tren ini pun ramai diburu, dari media sosial sampai pasar tradisional.

Tapi, di balik kenikmatannya, ada hal yang perlu dipertimbangkan. Kurma murni saja sudah punya segudang manfaat kesehatan berkat rasa manis alaminya. Nah, begitu ditambah keju, soal kalori jadi perlu dihitung ulang. Jangan sampai asal santap, malah bikin berat badan melonjak.

Menurut dr. Dicky Budiman, seorang ahli epidemiologi, kurma murni sebenarnya sangat baik untuk mengembalikan energi dengan cepat saat berbuka. “Tentu saat berbuka kurma akan mengembalikan energi yang cepat. Dan kurma juga baik untuk lambung karena bersifat asam,” jelasnya.

Ia memaparkan, dalam 100 gram kurma terkandung sekitar 300 Kkal energi, plus serat, mineral, dan kalium yang tinggi. Namun begitu, ceritanya bakal beda kalau kurma sudah dipadukan dengan keju. Kombinasi ini membawa serta protein dan lemak, yang otomatis menaikkan angka kalori secara signifikan.

“Ada yang perlu diperhatikan yakni jumlah kalorinya. Karena 1 kurma keju bisa mengandung 80-120 kcal per 1 buah. Kalau 5-6 butir bisa setara dengan nasi lengkap. Ini berisiko meningkatkan berat badan. Termasuk lonjakan gula darah pada diabetes,” tambah Dicky.

Jadi, bagi mereka yang punya kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes, kolesterol tinggi, atau obesitas saran dokter ini cukup jelas: lebih baik pilih kurma murni tanpa olahan. Manfaatnya lebih terjaga dan risikonya tentu lebih kecil.

“Untuk orang obesitas, atau ada masalah lemak dalam darah, jangan kurma keju, kurma Ajwa saja saat berbuka. Untuk kurma keju ini, penting melakukan pembatasan. Hindari kurma keju lebih dari 1 buah,” ungkapnya tegas.

Meski begitu, tren konsumsi kurma keju tak serta merta harus dihindari sepenuhnya. Menurut Dicky, tetap ada manfaatnya kalau dikonsumsi dengan bijak dan memperhatikan kondisi tubuh. “Kombinasi ini ada gula alami dari kurma dan lemak protein dari keju. Adanya protein dari keju bisa membuat rasa kenyang lebih lama,” paparnya.

Intinya, nikmati saja tren yang sedang viral ini. Tapi ingat, batasi porsinya. Satu atau dua biji mungkin cukup untuk memuaskan rasa penasaran, tanpa harus khawatirkan dampaknya yang berlebihan. Selebihnya, kurma biasa tetaplah pilihan yang aman dan menyehatkan untuk menemani waktu berbuka puasa.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar